“Mbak, anak perempuan itu cantik, ya?” tanya Wasis antusias. Ia menyenggol lenganku dan memintaku melihat sekumpulan anak yang sedang bermain kasti di sisi kanan lapangan. “Yang mana? Yang pakai hiasan rambut warna merah muda itu?” Ada tujuh anak perempuan disana. Dan ia ingin aku langsung tahu anak perempuan mana yang membuatnya tertarik tanpa memberi kata kunci apapun. Bisa-bisanya. “Bukan, bukan! Yang hijau, yang hijau.. Yang hijau itu, Mbak. Yang berdiri, Mbak.” Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pada seorang anak perempuan yang sedang berdiri. Mereka sedang bercanda ria di atas rerumputan. “Hijau? Oh, yang itu.” ucapku datar. Aku tidak lagi memandang ke arah lapangan dan mengalihkan padanganku pada botol air minum biru di smapingku. “Gak cantik ya, Mbak?” desak Wasis sambil

