“Buka pintunya!” Suara laki-laki yang berteriak kencang. Syukurlah rumah tetangga agak jauh dari rumah kami, sehingga telinga mereka masih bisa menghargai semua hal bersama, “Buka!” Suara orang berteriak dari luar rumah benar-benar memicu kegelisahan di dalam rumah. Changmi, Jian dan Jingmi tidak bergerak dari dari tempat mereka duduk, hanya wajah mereka yang berubah menjadi gelisah dan tegang. Beberapa jam sebelumnya aku sempat merasa curiga karena aku melihat Changmi diam-diam mengajak Jingmi masuk ke dapur dna mereka berdua berbicara sambil berbisik. Seingatku ini pertama kalinya mereka berbicara berdua. Changmi seringkali mengejek bahkan menghina kakeknya karena masalah kesehatannya. Ia berkata bahwa Jingmi hanya menetap di rumah ini karena ia tak bisa hidup sendirian dan ingin me

