Chapter 30

1648 Kata
“ Mirah, sebenarnya apa hubungan kalian? Kalau aku boleh tahu..” tanya Ci Lien Hua. “ Dengan siapa. Ci?” “ Jangan pura-pura bodoh. Aku tak terlalu suka novel romantis jaman sekarang.”kata Ci Lien ketus. Andai aku tahu apa jawaban dari pertanyaan itu. “Andai kau tahu bagaimana cara ia mencariku.” “Hamid mencarimu?” “Iya. Sebenarnya teman-temannya lah yang mencariku. Tapi aku berada di luar daerah keuasaannya dan ya, mereka bisa menemukanku dengan mudah.” jawabnya. Jadi itulah sebabnya ia menelepon temannya waktu itu. Ia mencari Ci Lien untuk menemaniku. “Mir, temanmu Hamid itu sangat berbahaya. Ada kabar bahwa ia sudah cacat ketika datang kemari. Kebaikan hati bosnya yang membuatnya dioperasi untuk kaki barunya. Ia adalah tangan kanan bos mafia itu.” Ci Lien sedang mengagumi Hamid. “Rumor yang beredar mengatakan kalau ia sedang mencari pujaan hatinya di Hongkong.” Aku kaget mendengar ucapan Ci Lien. Namun aku tak ingin Ci Lien menebak apa yang sedang kupikirkan saat ini. “Apakah itu kau, Sumirah? Apakah kau gadis yang ia cari selama ini?” tanya Ci Lien sambil mengubah posisi duduknya ke arahku. Ia sedang menunggu jawabanku. “Tentu saja bukan aku, Ci.” kataku pelan. Aku tahu ia sedang menungguku untuk berkata ‘iya’. Aku tak mengatakan hal lainnya. Ada yang jauh ingin aku selidiki. Tentang obat yang disuntikkan kepadaku oleh kakaek tua itu. Apakah itu benar-benar narkotika jenis baru seperti yang Hamid jelaskan? Dana apakah Ci Lien sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Aku terlalu lelah sekarang ini. Aku ingin terlelap cukup lama hingga semua luka yang kupunya menghilang perlahan. Sepuluh menit tidur akan sangat membantu memulihkan tenagaku. Aku melipat kedua tanganku dan mulai memejamkan mata berharap semua hanya mimpi. Mimpi yang akan usai ketika aku membuka mata. Terkadang teriakan Wasis atau Mbak Sumini yang membangunkanku. Aku merindukan mereka berdua. Wajah mereka, tingkah nakal mereka, hingga pertengkaran kami. Aku merindukan semuanya. Beberapa hari lagi Hamid akan menikmati semua itu. Ia tidak akan lagi merindukan orangtuanya, sepertiku saat ini. Ia akan menikmati pecel buatan Bu Saeful yang enak lalu minum es degan yang segar di tepi sawah. Aku merasa iri. Namun, Hamid benar. Apa yang tadi ia ucapkan di mobil tadi benar adanya. “Kita akan pergi ke markasku, Mirah.” ucap Ci Lien padaku sesaat setelah aku terbangun. “Baik, Ci.” jawabku singkat. Akan membutuhkan lebih dari tiga puluh menit lagi untuk kami sampai di stasiun sentral. Itu berarti aku mempunyai waktu yang cukup untuk mendengar penjelasan Ci Lien tentang suntikan itu. “Ci...” ucapku lirih. “Ya? Ada apa, Sumirah? Apa kau lapar?” tanyanya. Aku menggeleng cepat walaupun aku lupa kapan terkahir kali aku makan sesuatu. “Hamid bercerita tentang sesuatu yang disuntikkan padaku oleh kakek tua itu. Bisakah kau jelaskan itu padaku, Ci?” tanyaku pada Ci Lien. “I—itu...” “Ci, beberapa kenanganku hilang setelah kejadian itu. Aku ingin tahu semua tentang itu. Kumohon, Ci.” desakku. Ci Lien hanya menunduk dan tak membalas pertanyaanku. Ia sibuk bergerak membenarkan posisi duduknya seperti sedang menahan buang air kecil. Gerak-geriknya memang mencurigakan, namun aku tak ingin menyimpulkan apapun sampai Ci Lien menjelaskan semuanya padaku. “Apa kau sungguh ingin tahu, Mirah?” “Iya, Ci.” tegasku. “Aku tak ingin merahasiakan apapun darimu, Mir. Sungguh! Namun kali ini aku harus mulai dari mana.” Kini, Ci Lien duduk mendekat dan memegang tanganku. Sepertinya ini memang hal yang serius. Setelah kuingat-ingat lagi, Hamid berkata bahwa Ci Lien tahu tentang suntikan itu dan mengambil keuntungan darinya. “Kakek itu adalah majikanku. Ia adalah orang yang berjasa dalam kehidupanku selama di Hongkong.” “Apa?!” bentakku. Aku berusaha memahami tiap kata yang ia ucapkan. “Aku tahu sedang ada banyak sekali pertanyaan di pikiranmu sekarang. Aku tahu. Aku akan memberitahumu semua yang aku tahu.” “Jelaskan kepadaku semua yang kau tahu, Ci Lien.” Walaupun aku sedang tak sabar, tapi aku berusaha menahan semua perasaan yang bergemuruh. “Sumirah, dengarkan aku. Kakek Hong adalah seorang ilmuwan. Ia mencampur satu jenis obat terlarang dengan satu zat inti yang ia ciptakan sendiri. Aku rasa Kakek Hong secara tak sengaja memberitahu Hamid tentang hal itu. Itulah mengapa ia sangat marah.” Jadi nama kakek itu adalah kakek Hong. “Ia marah?” tanyaku tak percaya. “Ia bahkan membanting tubuh kakek tua itu di meja. Hamid orang yang berbahaya. Aku bersumpah ia bisa melakukan apa saja.” “Ceritakan tentang zat itu.” pintaku pada Ci Lien. “Ketika obat terlarang memasuki pembuluh darah, otak dan semua yang ada dalam tubuhmu bereaksi secara brutal. Puisng, mual hingga reaksi yang paling parah adalah kematian. Disitulah fungsi zat itu. Zat itu memberitahu otak dan semua pemuluh darah di tubuhmu bahwa obat terlarang ini vitamin.” Ia kemudain mengatakan bahwa ketika tubuh dan otak kita menganggap obat terlarang itu sebagai vitamin, maka rekasi yang ditimbulkan bisa jadi tak terlihat. Namun berita yang paling mengejutkan adalah kakek Hong dan Hamid masih belum memahami efeknya secara sempurna. Aku mendengarkan penjelasan Ci Lien dengan seksama dan tentu saja, perasaan takut. Aku bahkan menghentikan seseorang yang ingin duduk di samping kursi kami agar apa yang aku dengar ini tidak sampai didengarkan oleh orang lain. “Selain aku, Hamid dan Kakek Hong, tidak akan ada yang menyadari bahwa kau pernah menerima suntikan obat terlarang itu.” “Ci, kenapa? Kenapa kau sembunyikan ini?” “Karena Kakek Hong melihatmu beberapa waktu sebelumnya. Ia menyukai energi yang kau punya dan ingin percobaan pertamanya jatuh padamu.” Dengan seenaknya kakek Hong itu melakukannya padaku! “Kurang ajar! Aku akan menemui kakek Hong itu dan menghajarnya! Aku akan mematahkan lehernya sekarang juga!” “Tidak, Sumirah. Dengarkan aku. Tenangkan dirimu. Tolong!” “Tidak! Jangan hentikan aku!” “Aku harus menghentikanmu!” “Kenapa? KENAPA!” Aku membentaknya demikan keras hingga Ci Lien kaget dan mulai menggeser posisi duduknya agak ke kanan. Aku yakin ia sedang ketakutan. Aku tak lagi kebingungan. “Orang asing menyuntikku dengan obat terlarang dan kau minta aku untuk tenang? Apa yang sedang kau pikirkan, Ci?” “Kau tak akan bisa menyakiti kakek Hong, Mirah. Tak akan bisa.” “Kenapa! Jelaskan padaku..” pintaku. Bagian belakang leher terasa panas tiba-tiba ketika Ci Lien memintaku untuk tenang. Apakah ia mengerti perasaanku saat ini?! “Kakek Hong sudah meninggal. Dikremasi pagi tadi.” Kalimat Ci Lien menghujam jantungku. Akhirnya kakek Hong menerima apa yang pantas untuknya. “Siapa? Dan kenapa?” “Hamid-lah yang membunuhnya. Ia memasukkan obat terlarang dengan dosis tinggi ke dalam tubuh kakek Hong. Tubuh yang sudah tua itu tak kuat menahan semua rasa sakit itu.” Aku tersentak mendengar nama Hamid disebut dalam kasus ini. Ia menjadi pembunuh. Ia adalah seorang pembunuh. Ci Lien berulang kali meminta maaf dan berusaha menjelaskan kembali apa yang sudah ia jelaskan sebelumnya. Aku merasa sedang berdiri di ujung sebuah jurang. Aku memegang sebuah batu. Satu-satunya batu yang tersisa yang ada di hidupku sekarang ini. Batu itu yang akan membantuku bertahan lebih lama lagi di Hongkong. Harus kupegang dengan sangat hati-hati agar ia tak jatuh seperti batu-batu sebelumnya. Aku tak boleh kehilangan batu itu. Batu itu adalah diriku sendiri. Ya, aku harus menjaga diriku sendiri. Semakin lama aku semakin memahami perkataan orang yang mengatakan bahwa menjaga diri sendiri itu lebih sulit daripada menjaga orang lain. Aku berkata bahwa apa yang ia lakukan sangat jahat. Ia mengkhianatiku dengan cara yang tak pernah kuduga. Aku memaafkannya. Ketika kami berada di pemberhentian terakhir kami, Ci Lien mengatakan padaku bahwa akan ada beberapa orang yang akan menemui kami di depan stasiun sentral. Dan ia menegaskan mungkin akan ada hal yang lebih berat lagi setelah ini. “Aku cukup tahu dan apapun itu, aku siap.” “Aku tahu, Mirah. Aku tahu.” ucapnya seraya memegang tanganku. Ia terus melakukannya hingga kami berada di hadapan orang-orang yang tadi ia bicarakan. Tiga orang yang berada di hadapan kami sedang mengenakan baju musim dingin yang tebal. Laki-laki dengan baju musim dingin berwarna hijau membawa tas kertas berisi roti panggang. Ia menawari kami roti panggang itu namun ditolak halus oleh Ci Lien. Mereka tampak menuruti instruksi dari Ci Lien. Kami berkendara lima hingga enam jam menggunakan mobil kecil menuju tempat persembunyian Ci Lien. Tempatnya memang terpencil dan layak dipergunakan untuk bersembunyi. Hamparan sawah luas dan pepohonan di sekitarnya membuat tempat ini mengingatkanku pada tempat terakir aku melihat Hamid tersenyum. Rumah tua itu. “Apa mereka anak buah kakek Hong?” tanyaku pada Ci Lien dalam perjalanan tadi. “Benar. Dan mereka tak tahu bahwa kakek Hong sudah meninggal.” “Bagaimaa bisa?” tanyaku. “Kita akan bertemu dengan putri perempuan kakek Hong bernama Patricia. Patricia sangat berbeda dengan ayahnya. Ia tak tahu betul tentang dunia kami. Aku rasa ia akan menjadi temanmu.” jelasnya. “Teman? Tidak, terima kasih atas tawarannya. Aku cukup berpengalaman dengan pertemanan singkat.” jawabku dengan nada mengejek. Aku mengibaskan rambutku pada wajah Ci Lien. Ci Lien tertawa mendengarku berkata demikian. Ia tentu tahu apa yang sedang kami bicarakan. Aku memang tak terlalu suka kecuali dengan Nurul dan Hamid. Ia sedang membantuku membawa bantal dan selimut agar aku bis atidur dengan tenang di kamar Kami berjalan memabwa bantal dan selimut untukku agar tidurku tenang. Rumah ini snangat luas dan kami bisa memilih kamar mana yang akan kami tempati. Ci Lien menempati kamar yang berseberangan denganku. Kamar yang cukup luas untuk satu orang. Kurasa aku akan menggunakan kamar ini untuk beberapa hari kedepan. Aku harus mempunyai rencana kedepan yang harus kulakukan. Ah, Hamid. Apa yang sedang Hamid lakukan saat ini? Jam menunjukkan pukul setengah delapan sebelas malam dan masih berpikir tentang Hamid. Aku yakin ia sudah berada id dalam kapal sekarang, menikmati pemandangan laut yang gelap dan tenang, dengan secangkir teh hangat di tangan. Tak bisa kubayangkan betapa lebar senyumnya nanti bertemu dengan Pak Kardi dan Bu Kardi. Aku berharap aku bisa mengikuti langkahnya suatu saat nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN