Obrolan dua keluarga itu terus berlanjut, setelah meberitahu apa saja yang akan ia lukukan setelah menikah, Safiya hanya diam mendengarkan. Tak mau ikut campur yang bukan urusannya. Ia hanya sesekali berbincang hangat dengan Santi. Wanita itu sangat baik dan hangat. Baru sekali bertemu saja, sudah membuat hati Safiya bahagia. Merasa kalau seandainya ibunya masih ada, dia akan merasa lebih bahagia. Samir menatap lekat ke arah dua wanita beda usia itu. Tawa Safiya sangat tulus, siapa saja yang berada di dekatnya, akan merasa terhinoptis dengan cara bicara yang lemah lembut. 'Mama begitu bersikap terbuka, sedangkan aku dan dia hanya orang asing yang dipaksa untuk saling mengenal, lalu bersama,' ucap Samir dalam hati. "Safiya, boleh aku menyimpan nomor telponmu?" Pertanyaan Samir membua

