Raga Ardhan memang berada dengannya, tapi hatinya tidak. Sedari tadi dia terus gelisah menunggu tamu yang begitu ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya. Kali ini Ardhan tidak bisa lagi menghindar, dia takut Papanya akan berbuat macam-macam yang lebih parah lagi kepada Rani. Sudah cukup Papanya membuat Rani kehilangan pekerjaan. Ardhan tidak ingin Rani semakin sedih hanya karena ulah keluarganya sendiri. "Mama nggak sabar banget. Akhirnya kamu datang juga, Ardhan!" Binar mata Jelita menyoroti mata Ardhan. Jelita terlihat bahagia dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Mama seneng kalau kamu nurut." Ardhan hanya diam, sesekali menatap ponselnya untuk membantu meredakan kegelisahannya. Namun, tetap saja perasaan Ardhan tidak keruan. Hatinya gelisah mengingat semua luka demi luka yang

