28

1318 Kata

Melati Tanpa Wangi 28 Handel pintu kayu jati tebal ruang abu-abu sebenarnya tak terlalu berat, tetapi tanganku mendadak terasa seperti mendorong berton-ton batu. Detak jantungku berpacu kencang, kedua tanganku terasa dingin, sementara kakiku bak goyah, aku sungguh tak berharap bertemu pria itu di dalam sana. Aku belum sanggup bertemu dengannya. Sejujurnya aku tak ingin melihatnya selamanya, tetapi mustahil mengingat aku ada di rumahnya, terikat kontrak kerja dengannya. Namun, setidaknya aku butuh waktu untuk menenangkan diri, menguatkan hati, dan mempersiapkan mental sebelum menghadapinya seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ini terlalu cepat, bahkan di saat aku belum mampu menghilangkan bekas aromanya yang menghantui inderanya. Pasrah, kudorong pintu hingga terbuka l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN