Melati Tanpa Wangi 31 Aku masih bertanya-tanya akan respon Kang Handi, akan tangisnya yang demikian memilukan, sejenis tangis penyesalan dan ketidakberdayaan. Ia bahkan tidak bertanya lebih banyak, tak berusaha mengorek lebih jauh seolah-olah kalimatku yang belum sepenuhnya selesai menjelaskan yang terjadi, sudah sangat jelas untuknya. Tak mendapatkan amuk kecemburuannya justru membuatku bertanya-tanya. Kami hanya berpelukan sembari menangis, ia mendekapku erat seolah khawatir aku akan menghilang jika ia melepasku barang sejenak. “Bersihkan diri dang anti baju, Dek,” katanya, parau. Ia melepas dekapannya, lantas menghapus air mata yang membanjiri wajahnya. Tak banyak bicara, aku mengiyakannya. Bangkit, kubawa langkahku tertatih-tatih ke dalam kamar mandi kecil di pojok ruangan. Tanpa

