Setibanya dirumah Silva terus memikirkan Ramalan tentangnya.Sampai larut malam dia belum tertidur.
"Kenapa aku terus mengingat Ramalan tadi ya..bagaimana kalau itu benar terjadi,siapa orang yang dimaksud peramal tadi..?"gumamnya
Sedang memikirkn ramalan,terdengar pintu di ketuk dari luar.
Tok...tokkk...
"Masuk.!"katanya
Dilihatnya sosok bertubuh tinggi tersenyum padanya.
"Kenapa belum istirahat..?!"tanya orang yang berdiri di pintu yang tak lain kakaknya Rama.
"Belum ngantuk kak...?"jawab Silva
Rama mendekati Adik kesayangannya itu lalu duduk disampingnya.
"Nakula sudah cerita semua ke kakak.!"
"Dasar...itu anak gak bisa jaga rahasia sedikitpun pada kakak."
"Jangan,terlalu dipikirkan ramalan hanya akan menambah beban pikiran saja.Ada kakak yang akan selalu menjagamu,kakak akan selalu membuatmu tersenyum.Jadi jangan dipikirkan ya..?!"kata Rama sambil mengelus rambut adiknya
Silva langsung memeluk kakaknya dengan penuh kasih sayang.
"Makasih kak..?"
"Lihat aku punya sesuatu untukmu.!"
"Apa...?"
Rama mengeluarkan kotak dari piamanya.
"Handphone baru..?"
"Ya ...ini keluaran terbaru teman kakak yang memberikannya,karena kakak gak cocok dengan modelnya jadi ini untuk kamu aja.!"
"Makasih kak..kak Rama baik benget sich.?!"
"Baru sadar kalau kakaknya baik,Keman aja kamu dek...?!"Rama tertawa
"Ihhh....apaan sich..!"sahut Silva tersipu malu
"Satu lagi mulai besuk kakak yang akan antar kamu kuliah."
"Kantor kakak dan kampus aku kan beda arah.?"
"Mulai besuk kakak pindah tugas,kantor lama sudah di urus Tirta..jadi kakak akan buka cabang baru.!"
"Hebat banget sich kakak aku,udah ganteng baik pintar bisnis,satu lagi Bos Mafia pula.Tapi sayang belum punya istri..?!"ejek Silva
"Sebentar lagi kakak akan Lamar Rara tunggu aja tanggalnya.?"
"Kakak yakin akan menikahi Rara.?"
"Kenapa selama ini Rara baik sama aku dan juga keluarga kita.?"
"Aku rasa lebih cocok kakak menikah dengan mbak Sinta ."kata Silva
"Apa dek..?"Rama mendengarnya namun kurang jelas
"Nggak papa,udah kakak keluar istirahat sana aku udah ngantuk.!"Silva membuat alasan
"Ya udah,tapi kamu janji ya jangan wmikirkan terlalu dalam tentang Ramalan itu.!!"
Silva hanya mengangguk,Rama berlalu meninggalkan Silva.
Baru saja Silva mau membaringkan badannya di Ranjang, Handphone nya berdering.
"Napa ...udah malam yang aku mau tidur"kata Silva yang menerima video call dari Nakula.
"Aku cuma mau mastiin aja kalau kamu gak mikirin tentang Ramalan gak bermutu itu."jawab Nakul
"Gimana kalau itu benar terjadi yang.?"
"Aku gak akan biarin ..?!"
"Yang kamu kok langsung bilang ke kak Ram sich...?!"
"Kenapa..?"
"Kak Rama jadi khawatirkan,lagian gak bisa banget jaga rahasia."
"Jangan manyun cantiknya hilang tu..?"
"Biar aja..!"
"Sayang udah dulu ya,selamat malam I Love you..!"
"Hemmm...."
"Kok gak dijawab..?"
"Udah ahhh...lagi marah.!"
"Awas aja esuk."
"terserah...!"
Silva mematikan panggilan Vidio nya.Lama dia berbaring di ranjangnya,berbalik kanan berbalik ke kiri namun matanya enggan terpejam.Pikirannya galau.Mungkin karena capek berguling,akhirnya diapun terlelap.