Tiba di bandara hari telah mulai meluncur ke arah sore ketika Rafael menghubungi operator taksi. Dia tak meminta jemputan dari rumah karena dia memang tak berniat segera pulang ke rumah. Tujuannya kali ini hanya satu, ke rumah Eyang. “Ada Eyang, Surti ?” tanya Rafael begitu Surti membuka pintu. “Ada, Tuan. Beliau ada di kamar” Rafael langsung melangkah lebar menuju kamar Eyang. Mengetuk pintunya, lalu membukanya pelan setelah terdengar suara Eyang yang mempersilahkannya masuk. Eyang Asma yang masih terbaring itu terlihat terkejut dengan kehadiran Rafael, tapi perempuan tua itu segera memaksakan diri untuk tersenyum. “Selamat sore, Eyang ...” Rafael masuk dan segera menyalami tangan Eyang, lalu menciumnya takzim. “Katanya kamu ke Hongkong, Raf ? Kapan datang ?” Eyang bertanya dengan

