Sepanjang perjalanan, tak banyak yang Sinta dan Anis bicarakan. Anis harus terus konsentrasi pada mobil yang dikemudinya, sementara Sinta larut dalam kesedihan dan kekalutannya. Meski isaknya tak terdengar, tapi air mata tak berhenti mengucur dari matanya yang kini telah sembab. Sesekali Anis hanya menoleh ke arah Sinta. “Sin.. sabar ya, kita akan membicarakannya setelah sampai di apartemen kamu.” Sinta tak menjawab, tak juga mengangguk. Anis segera melarikan mobilnya menuju ke apartemen Sinta. Dalam hati Anis bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Sinta terlihat demikian hancur seperti ini. Selama pertemanan mereka, tak sekalipun Anis melihat Sinta demikian rapuh dan lemah. Setelah memarkir mobilnya di basement apartemen, Anis segera membawa Sinta menuju ke pintu lift yang berada

