Benar-benar sebulan yang penuh tantangan karena Rafael bahkan tak punya waktu untuk sekedar merileks-kan otot dan otaknya dari setumpuk kegiatan di tempat kerjanya, di Hongkong kali ini. Mulai dari adaptasi dengan gaya bicara dan gaya hidup serta ritme kerja klien, sampai pada makanan. Meskipun ada banyak resto yang menyediakan menu masakan Indonesia, tetap saja Rafael harus mengkonsumsi makanan seadanya, yang penting dekat dengan huniannya. Hanya, hari ini semua terasa agak ringan untuk Rafael. Semua pekerjaannya berjalan dengan baik, dan dia ada sedikit waktu luang. Maka pagi ini dia bermalas-malasan bangun. Pintu yang digedor oleh Devi dari tadi tak dihiraukannya. Devi? Tentu saja, karena dengan pongahnya perempuan itu ngotot tinggal satu apartemen dengan Rafael. Meski dengan berbaga

