“Uang tutup mulutku mahal, apa kamu bisa memberikannya?” Rain menjauhkan badan, pria itu tersenyum dengan sudut bibir dan terlihat sangat seksi sekaligus menyeramkan di mata Embun. “Katakan saja!” Jelas Embun berani menantang karena sebenarnya dia bukan mata-mata melainkan calon pemilik hotel itu. “Kacaukan acara pertunanganku dan Bening.” Kalimat itu ingin sekali Rain ucapkan, tapi dia takut gadis di depannya besar kepala dan menganggapnya masih memiliki perasaan meskipun memang iya. “Katakan!” ulang Embun. “Tidak sekarang karena aku belum memikirkannya, aku tidak mau gegebah menggunakan hal seperti itu. Aku akan memakainya untuk membuatmu kesulitan,” ancam Rain yang mukanya berubah menjengkelkan. “Kamu benar-benar.” Embun menggerutu, ia menoleh ke arah Rain yang membuka pintu kam

