Zane bercerita... bercerita segalanya. Bahkan hingga ia terengah, merasakan beban berton-ton terangkat dari dadanya. Sang psikolog, menahan napas sejenak. Ia menjatuhkan tatapannya pada notes kecil di tangannya. "Terima kasih sudah berani menceritakan ini. Ini bukan ilusi. Apa yang kamu rasakan itu valid. Dan perasaanmu bahwa ada ancaman nyata juga valid." Psikolog itu menutup catatannya. "Pertama, yang harus kamu lakukan adalah istirahat total. Tubuhmu bereaksi terhadap stres, dan siklus tidurmu sudah terganggu parah. Kamu harus benar-benar menjaga pola makan. Hindari kafein berlebihan." Zane mengangguk pelan, mengingat tumpukan makanan manis dari Rendi yang ia jadikan pelampiasan. "Kedua, dan ini adalah hal yang paling sulit," lanjutnya, matanya menatap Zane lurus, "kita tidak bisa

