Zane tidur dengan punggung menghadap Rena. Awalnya dia nyenyak, lelah setelah seharian bergulat dengan perasaan barunya. Zane tersentak, tetapi ia tidak bangun. Ia berada di antara tidur dan sadar, kondisi yang paling ia benci. Kepalanya terasa pusing, dan ia tahu, kondisi itu kembali. Rasa gelisah yang familier menjalari sarafnya. Parahnya, malam ini berbeda. Bukan sekadar mimpi atau kesadaran samar. Ini adalah sentuhan. Dia merasakan kontak yang jelas. Sesuatu yang lembut dan panjang, mungkin jemari, menyentuh pelan kulit di sekitar lehernya. Sentuhan itu tidak kasar, justru terlalu halus dan membuatnya semakin merinding. Jari-jari itu bergerak perlahan, menyelusuri lekuk lehernya, turun ke bahu, sebelum akhirnya berhenti di tepi kaus tidurnya. Napas Zane tercekat. Seluruh tubuhnya teg

