Rena berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen. Ia baru saja kembali dari kampus lebih awal, membawa dua kantong kertas berisi camilan impor yang mahal. "Kita perlu istirahat dari buku-buku ini. Ada film baru, katanya bagus. Kamu mau, kan?" seru Rena, melemparkan salah satu kantong ke tempat tidur Zane, melintasi garis solatip hitam dengan seenaknya. Zane yang sedang mencoba menyelesaikan tugasnya di meja, mendongak. "Film? Aku harus menyelesaikan ini dulu," jawab Zane, mencoba menolak dengan sopan sambil menunjuk tumpukan buku di depannya. "Ah, ayolah! Kamu kelihatan pucat," desak Rena, melangkah masuk sepenuhnya ke 'wilayah' Zane. Zane refleks menarik diri sedikit, jantungnya berdebar. Rena seolah tidak menyadari, ia malah duduk di tepi meja. "Jangan terlalu serius. Kamu bisa str

