Ara menyentuh bibirnya setelah beberapa lama Yudis dan Kakek Damian pergi. ‘A-apaan tadi? Mas Yudis barusan nyium bibir gue,’ Ara merasa jantungnya dari tadi tidak terus berdebar-debar. ‘Kenapa gue jadi deg-degan begini?’ batin Ara masih mematung. Kedua tangannya memegang dadanya. Itu tadi adalah ciuman pertama yang baru Ara alami. Dan Mas Yudis sudah mengambil ciuman pertamanya tanpa permisi dan izin. “Aaaarrrrgh, begooooooo!” Ara merutuki dirinya sendiri. Karena Ara udah begitu aja diam dan pasrah saat Mas Yudis tadi menciumnya tanpa sempat meminta izin. “Apa tadi dia bilang, sebelum dia nyium gue. MA-AF. Maaf katanya. Dia udah melanggar kontrak perjanjian dia sendiri. Ini tidak bisa dibiarin begitu aja,” gerutu Ara merasa marah dan jengkel. Ara lalu mengambil ponselnya. Dia tida

