“Mad, apa kita bisa sampai dalam waktu 25 menit?” tanya CID, yang duduk di sampingnya. Sambil menatap layar ponsel. Melihat acara Farah. “Akan aku usahakan. Tempatnya cukup jauh, CID,” jawab Mad, konsentrasi mengemudi. Sedikit mengebut. “Kita harus tiba sebelum sesi poling berakhir.” Suasana malam yang terlihat mengerikan, saat mendengar sirene mobil polisi. Dan, lampu merah yang menyala di atas mobil. Sementara itu, di dalam studio—atmosfirnya masih sama. Menegangkan. “Seperti ceritanya, Pak R—adalah ayah dari Farah. Hartanya habis karena lelucon Farah, yang tidak masuk akal. Hingga membuat sang ibu berakhir depresi. Dan, sakit seperti saat ini.” Kamera menyorot seorang wanita di sebelah Pak Roni. Wanita yang wajahnya tak berseri. Punggungnya membungkuk. Dengan pandangan kosong. A

