“Jadi, kita akan mati? Itu yang kau maksud?” “Vanila. Itu.. bau parfum kita, kan?” Lea diam sejenak. “Lea.. kau tahu, kan? Aku tidak bisa mencium bau. Kau yang bisa. Jadi.. mustahil aku tahu aroma parfum kita.” “Itu karena, kau membaca label botol parfum. Sudahlah, jangan membodohiku!” “Kau yang bodoh! Botol parfummu.. tidak pernah ada labelnya. Kau selalu membeli parfum racik.” Lea menggigit bibir bawahnya. Memang benar, yang di katakana Senna. Lea tak pernah membeli parfum yang ber-merk. “Lalu, bagaimana cara kita terbunuh? Dan.. siapa pembunuhnya? Kau pasti mencium parfum kita, di tubuh pelaku, kan? Itu yang kau jelaskan pada buku catatan kita.” “Aku tidak tahu. Karena itu, belum terjadi. Yang pasti, aku akan mati dengan pelipis yang berlubang.” “Cukup menyakitkan sepertinya.”

