CID baru saja tiba di rumah makan pertama, yang saat itu cukup ramai pembeli. Mendorong masuk pintu rumah makan, dan segera mengedarkan pandangan. Seseorang dari kasir, menghampirinya. “Selamat siang. Ada janji dengan seseorang? Atau ingin makan siang?” tanya perempuan, dengan rambut keriting, yang di kuncir kuda itu. “Ah, siang. Apa.. Aku bisa bertemu dengan pemiliknya?” “Kebetulan aku adalah anak pemilik rumah makan ini. Ada apa mencari ibu saya?” “Tunggu sebentar.” CID menarik keluar ponsel dari saku celana depannya. Menunjukkan sebuah gambar seorang kurir. “Apa ini rompi dari rumah makan ini?” “Oh.. Bisa saya lihat dulu.” “Ah, iya.” Perempuan itu mengambil ponsel CID. Mengerutkan matanya, karena resolusi gambar cukup buruk. “Iya. Ini rompi rumah makan kami. Ini juga pek

