Jadwal pernikahan yang dipercepat, membuat Nalendra bergegas mempersiapkan resepsi pernikahannya dengan Amel nanti.
Tiga hari menuju hari hari H. Nalendra sangat sibuk. Bukan sibuk mengurus pekerjaan, melainkan sibuk mencari gaun pengantin untuk sang pujaan hati.
Nalendra sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari undangan yang tanggalnya diubah dari jadwal awal, lalu gedung pernikahan, hingga gaun pengantin. Dipersiapkan sedetail mungkin dan secepat mungkin. Tidak peduli, biaya yang dikeluarkan lebih banyak, asalkan semua yang diinginkan berjalan sesuai rencana awal.
***
Hari H.
"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Amelia Putri binti Almarhum Supriyadi, dengan Ananda Nalendra Putra Anggara bin Almarhum Anggara Hermawan, dengan maskawin satu unit rumah, sepuluh gram emas, uang sepuluh juta lima ratus ribu rupiah dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Amelia Putri binti Almarhum Supriyadi dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Nalendra dalam satu tarikan napas serta menghentakkan tangannya penuh keyakinan.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya ketua penghulu. Menoleh ke kiri dan kanannya.
"Sah!" jawab beberapa pria yang menjadi saksi.
"Saahhhh!!!" lalu yang lainnya, yang ada di ruangan tersebut secara serentak.
Setelah semua mengucap 'Sah' ketua penghulu itu, lantas memimpin doa bersama. Nalendra mengangkat kedua tangannya, mengaminkan semua doa yang terucap.
Proses ijab kabul, telah selesai dilakukan. Sekarang saatnya Amel menunjukkan diri di hadapan semua pasang mata yang memenuhi ruangan tersebut.
Nalendra sedikit menitihkan air mata, ketika bayang-bayang almarhum ayahnya muncul dalam benaknya. Sang ayah tidak sempat melihat dirinya menikah, padahal beliau sangat ingin melihat Nalendra bisa bersanding dengan Amelia di pelaminan.
Amel pun berjalan perlahan-lahan, memasuki ruangan yang telah dihiasi dengan banyaknya bunga. Seluruh pasang mata tertuju kepada Amel. Termasuk Nalendra. Dia sudah sangat menantikan hari ini, melihat wanita yang sangat dicintainya berdandan layaknya ratu di negeri dongeng.
Tidak ada yang tidak terpana melihat kecantikan Amel dalam balutan kebaya pengantin. Kecantikannya tidak pudar sama sekali, malah semakin terpancar aura cantiknya.
***
Malam yang telah dinanti-nanti selama ini, akhirnya tiba juga. Di dalam kamar, yang telah dihias dan ditaburi kelopak mawar di atas ranjang, Nalendra dan Amel saling menatap satu sama lain.
Amel masih dalam balutan gaun pengantin berwarna ungu muda. Sementara Nalendra telah melepaskan jas. Kini dia hanya mengenakan kemeja dan celana panjang masih melekat di tubuhnya.
Nalendra menggenggam tangan Amel, menatapnya teduh dan tersenyum lembut.
"Alhamdulillah. Akhirnya, hari yang aku nantikan selama ini, datang juga. Aku sudah sangat menantikan, saat-saat bisa berduaan dengan kamu seperti ini. Sah, sebagai suami istri," ucap Nalendra penuh kelembutan.
Nalendra tidak bisa menggambarkan semua kebahagiaannya dengan bentuk kata-kata. Semua ini masih seperti mimpi baginya. Sekarang dia menatap Amel dengan sangat dekat dan status Amel bukan lagi teman, melainkan istri sah sekaligus Nyonya Besar Keluarga Anggara.
Amel menelan ludahnya pelan-pelan. Merasa sangat gugup. Tidak terbayangkan sebelumnya, dia akan menikah dengan pria yang selama ini menjadi teman baiknya itu.
Teman berujung menjadi suami. Hihihi. Sudah seperti cerita di novel-novel saja.
Amel berusaha memasang senyuman. Dia benar-benar gugup dan cemas untuk malam ini.
Nalendra pelan-pelan mendekatkan wajahnya. Sedikit memiringkan kepala, bibir ranum sang istri menjadi sasaran. Hati Amel semakin tidak karuan. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Beberapa sentimeter lagi dan beberapa detik lagi.
"Aku tidak bisa melakukannya!"
Tiba-tiba Amel beranjak bangun. Dia berdiri membelakangi Nalendra.
"Maafin aku ... tapi, aku enggak bisa melakukannya sekarang."
Nalendra terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya dia tersenyum kecil. Dia beranjak bangun, mengikis jarak antara dirinya dan Amel.
Nalendra memutar badan Amel, supaya pandangannya dengan sang istri saling bertemu. Amel menundukkan kepalanya, memilih untuk tidak menatap kedua mata Nalendra.
"Tatap mata aku, Sayang," pinta Nalendra seraya mengangkat kepala Amel, agar ia bisa melihat kedua manik indah milik istrinya.
"Aku enggak bisa, Nalen. Aku belum siap untuk melakukan hubungan ini. Maafin aku, Nalen. Kamu boleh hukum aku karena tidak bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai ...."
"Hust ... " Nalendra menempelkan jari telunjuknya di bibir Amel. Memotong kalimat yang belum selesai itu.
"Kamu kesayangannya aku. Bagaimana bisa, aku menghukum kamu, Sayang? Di sini, kamu tidak salah. Aku tidak memaksa kamu untuk melakukan itu, sekarang."
"Aku menikahi kamu bukan karena nafsu, melainkan karena ini ..."
Nalendra menuntun tangan Amel, untuk menyentuh bidang dadanya.
"Hatiku yang memilih kamu, Sayangku." Kemudian dia tersenyum lembut.
Muach ...
Nalendra mengecup kening Amel untuk kedua kalinya, setelah sah menjadi sepasang suami istri.
"Sebaiknya, kamu bersih-bersih badan dulu, Sayang. Setelah itu, kamu istirahat deh. Aku akan mandi, setelah kamu selesai. Dengan begitu, kamu merasa aman saat di kamar mandi," lanjut Nalendra berucap dengan nada lembut.
"Heum, kamu beneran enggak marah sama aku? Aku takut, kamu bakalan marah karena aku, nolak untuk berhubungan intim ..."
Lagi-lagi Amel tertunduk lesu. Sekaligus menyembunyikan rona pipinya yang memerah, akibat ciuman di kening tadi.
Nalendra menyentuh kedua pipi Amel, sedikit mencubitnya dengan gemas.
"Apa salam ini aku pernah marah kepadamu, Sayang?"
Amel menggeleng pelan. Bagianya, Nalendra adalah sosok paling sabar yang pernah ia kenal.
"Nah itu kamu mengakuinya sendiri, kalau aku ini enggak pernah marah. Terus, kenapa kamu bilang, aku bakalan marah, kalau kamu enggak mau melakukan hubungan intim di malam pertama?"
"Heum, aku takut aja, kalau kamu marah."
"Marah kenapa coba? Aku pengen denger alasannya?" Nalendra memasang wajah seolah sedang menantang. Dia berkacak pinggang. Menahan diri untuk tidak tersenyum, padahal dia ingin sekali tertawa karena ekpresi polos Amel sangatlah lucu.
"Iya ... Aku enggak ada alasannya." Amel membuang pandangannya dan berdiri sedikit serong.
Nalendra menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum lembut. Dia menarik Amel, untuk bisa menatap kedua matanya.
"Sudah ya, Sayang. Kamu jangan terlalu serius. Aku ini tetaplah Nalendra yang kamu kenal dulu. Biarpun status kita sekarang suami istri, bukan berarti kamu harus formal dan serius kayak gini ..."
"Aku tetaplah Nalendra. Teman kamu yang paling jahil dan nakal. Hehehe ..." Dia cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tahu, Sayang. Kamu serius kayak gini, kelihatan lucu banget tau. Soalnya Amel yang aku kenal dulu tuh, ceria, penuh senyuman dan nakal," sambungnya dengan nada menggoda.
Perlahan senyuman itu mulai muncul di wajah cantik Amel.
"Nah gitu dong senyum, kan kelihatan makin cantik," pujinya sedikit menggoda.
"Apaan si, gombal ..." gerutu Amel, sambil mencubit pinggang Nalendra dengan gemas.
"Aduh, Sayang. Geli tau," ucap Nalendra keenakan dan sedikit manja.
Jika dibandingkan dengan Amel yang kalem dan pendiam, Nalendra malah kekanak-kanakan. Persis bocah yang sedang merayu orang tuanya, supaya mau memberikan uang.
Sementara itu, Amel tampak memasang wajah cemberut lagi. Namun, tidak seserius seperti beberapa menit lalu.
Amel mulai tenang dan bisa menerima status barunya sebagai istri Nalendra. Mulai hari ini, dia memang harus belajar untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
.
Malam itu tidak terjadi apa-apa antara Nalendra dan Amel. Mungkin tidak untuk sekarang.