Suasana gelap mendominasi pandangan Bhumi kecil. Rasanya pengap sekali saat harus tinggal di ruangan lembab sendirian. Hanya ada cahaya bulan purnama dari luar sana yang terlihat di celah jendela. Meski masih kecil, ketampanannya sudah mencolok walau mengenakan pakaian seadanya. Murung di wajah bocah 10 tahun itu hanya bisa menatap cahaya tersebut dalam kesendirian. Tanpa berkedip. Tanpa ada harapan lagi. Ia seolah sudah kebal dan tak lagi punya emosi hingga akhirnya pintu terbuka. Sebuah piring stainless-steel dilempar begitu saja di hadapan Bhumi cilik. Bahkan nashi dan lauknya sampai berceceran. “Makan!” seru seorang remaja perempuan. Kemudian remaja perempuan yang lain datang lagi dengan melempari sekotak su5u sampai membentur kepala Bhumi cilik. Tapi, bocah itu hanya terdiam dan

