9 - Say IT

509 Kata
"A.. apa maksudmu?" Ucap Jaemin ragu-ragu. Mendengar itu, Jeno tersenyum miring. "Ckckck, wrong answer." Ujar Jeno yang langsung mengambil posisi diatas Jaemin. "Wait.. Jeno... Aaaaakkkkhhh." Suata Jaemin sudah sama dengan teriakan. Jaemin mencoba menahan tubuh Jeno namun tenaganya kalah dibandingkan Jeno. Jeno tak memperdulikan ucapan Jaemin dan sesuai kata-katanya, ia pun tanpa ragu menusuk lubang Jaemin. Air mata Jaemin mengalir deras akibatnya. Ia mencakar tubuh Jeno tanpa sadar. Begitu Jeno memasukkan penisnya, Jaemin merasakan sakit yang tak tertahan hingga rasanya ia sendiri sulit bernafas karena shock. "It hurts.. hiks.. Jeno.." Isak Jaemin di sela tangisnya. Jeno melihatnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Jeno pun meraih kepala Jaemin, kemudian mengecup setiap inci permukaannya. Belum berhenti tangis Jaemin, Jeno langsung menggerakkan kasar penisnya didalam lubang Jaemin yang begitu ketat hingga membuatnya sulit namun tetap dipaksakannya. Tak diragukan lagi, beberapa saat kemudian lubang Jaemin terlihat mengeluarkan cairan merah kental. "No. Jeno... Stoophh.. Aaakhh.. Pleasee... Akhh.. It hurts..  Pleaseee.." Ucap Jaemin dengan suara serak karena terisak. Jeno hanya memeluk Jaemin tanpa menghiraukan ucapannya, tubuhnya sendiri menjadi pelampiasan Jaemin dengan mencakarnya. "I am sorry... Jenoo, Pleaseee.. forgive me... Aaakhh.. Stoopphh.. Aaaakh, You... Breaaking mee..." Jaemin masih memohon, ia memeluk tubuh Jeno tapi juga sesekali mencoba mendorong tubuh kokoh itu dari atasnya. Jeno seakan tak peduli, ia terus menggoyangkan penisnya mengumbar lubang Jaemin. Merasa lelah dengan racauan Jaemin, akhirnya Jeno kembali memborgol tangan Jaemin ke atas tempat tidur. Kemudian membungkam mulutnya dengan bibirnya. "Aahh.. Mmpphh.." Tak lama setelah itu, Jeno mendapat klimaks pertamanya.. Namun tak berhenti disana, ia membalik tubuh Jaemin dan kembali memasuki lubang Jaemin yang sudah licin dengan cairannya dan darah dari belakangnya. "Seandainya.. Kau cukup menjawab bahwa kau Na Jaemin.. Mungkin aku akan mempercayaimu." Bisik Jeno di telinga Jaemin. Mendengar itu, Jaemin seakan tertusuk hal yang lebih menyakitkan dihatinya. Jaemin hendak membalas namun, jari Jeno sudah memenuhi mulutnya dan penisnya mulai bergerak di lubangnya membuatnya sulit berucap. Gerakan Jeno terasa makin kasar, ia mencoba untuk menembus lebih dalam ke lubang Jaemin yang hanya bisa mendesah antara nikmat dan perih di lubangnya. "Aku tahu... kau... melakukan sesuatu... pada laptopku... semalam." Ujar Jeno di selingi geramannya. "Katakanlah, kau disini sebagai Jaemin submissive ku? Atau Noir, pembunuhku?" Ujar Jeno, sebelum akhirnya klimaks lagi di lubang Jaemin. Ucapan Jeno seakan peluru yang menembus diri Jaemin. Tubuhnya jatuh begitu saja setelah Jeno melepasnya. Jaemin tak memiliki tenaga untuk membalas ucapan Jeno yang ia sendiri tak ingin menjawabnya. Tapi yang pasti, tanpa tahu alasannya kali ini air matanya mengalir bukan karena sakit di tubuhnya. Melihat kondisi Jaemin yang berantakan, Jeno mengambil kain dan melemparnya untuk menutup tubuh Jaemin. Kemudian ia melepas borgol besi yang melukai tangan Jaemin akibat permainan kasarnya. "Pergilah Jaem, jika kau disini sebagai musuhku.. Mungkin aku tidak bisa melakukan apa-apa, tapi percayalah.. anggotaku tak akan membiarkannya." Ujar Jeno sebelum meninggalkan ruangan. Begitu Jeno keluar dari ruangan, Jaemin merasakan perasaan bersalah yang teramat dalam. Seakan Jeno mengucapkan 'Aku kecewa padamu'. Delapan tahun belum cukup bagi Jaemin untuk melupakan Jeno. Ia meringkuk di tempat tidur itu dengan memeluk tubuhnya kuat mencoba memutuskan keputusannya. *** To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN