Sebelum Badai Udara bergetar hebat, cahaya dari kitab dan aura gelap Wanita Perak saling berbenturan, tapi Reyna belum bergerak. Ia menunduk sejenak, jari-jarinya bergetar di atas sampul kitab. David meraih bahunya, meski tubuhnya sendiri masih lemah setelah luka yang belum sepenuhnya sembuh. “Reyna… aku tahu ini menakutkan. Tapi jangan lupa, kau tidak sendirian. Kau punya aku.” Aditya berdiri di sisi lain, lebih kaku, tapi nadanya tak kalah tegas. “Dan aku. Meskipun aku dulu meragukanmu… sekarang aku melihatnya. Kau benar-benar pewaris ibumu. Kau punya sesuatu yang tak kami miliki: keberanian untuk memilih jalanmu sendiri.” Reyna menatap mereka berdua, matanya berair. “Tapi… aku takut. Kalau aku gagal, semua ini bisa berakhir buruk. Ibu… ibuku menyerahkan semuanya padaku. Kalau aku ja

