Bayangan Ayah Aditya terhenti di sebuah ruang sempit yang dipenuhi nyala api. Asap menyesakkan d**a, dan di tengah kobaran itu berdiri sosok yang paling ia kenal—ayahnya. Bukan ayah yang tersenyum bangga saat ia kecil, melainkan bayangan gelap dengan wajah penuh kekecewaan. “Aditya,” suara itu bergema, berat, “kau selalu membuat masalah. Kau membangkang, melawan aturan, dan kini menyeret orang lain dalam bahaya. Kau bukan pewaris… kau hanya kegagalan.” Aditya menggertakkan gigi, menahan amarah yang membuncah. “Aku bukan dirimu. Aku tidak akan mengikuti jalan yang kau paksakan padaku!” Bayangan ayahnya melangkah mendekat, api makin tinggi mengitari mereka. “Kau kira dunia ini akan menuruti idealismemu? Kau lemah, terlalu banyak percaya pada perasaan. Tanpa kekuasaan, kau bukan siapa-si

