Langkah ke Kegelapan Tangga batu yang mereka turuni terasa tak berujung. Udara makin dingin, lembab, dan berbau logam tua bercampur lumut. Setiap langkah bergema panjang, seperti ada sesuatu di kegelapan yang ikut menghitung detik-detik kehadiran mereka. Obor di dinding menyala redup, tapi nyalanya bukan berasal dari api biasa—melainkan cahaya biru yang berkilat pelan, seperti dijaga oleh energi tak terlihat. “Ini… bukan tempat yang dibuat untuk manusia biasa,” gumam Aditya sambil menyentuh salah satu obor. Kilatan kecil langsung meloncat, membuatnya cepat menarik tangan. “Ada sihir di sini.” Reyna merapatkan genggamannya pada liontin. Cahaya di dalam permata liontin itu terus berdenyut, seakan memberi arahan, seakan berhubungan langsung dengan ruang yang mereka tuju. David berjalan p

