Reyna berdiri kaku di hadapan dirinya sendiri—versi gelap dengan mata hitam, senyum sinis, dan tatapan yang menusuk. Bayangan itu melangkah mendekat, setiap langkahnya menimbulkan gema aneh di lorong batu. “Kau selalu menjadi beban,” ejeknya. “Norman benar. Kau bahkan tidak bisa menembak seseorang meski tahu hidupmu dipertaruhkan.” Reyna memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napasnya. “Itu bukan kelemahan. Aku hanya… tidak ingin kehilangan diriku sendiri.” Bayangan itu tertawa, keras, pahit. “Bodoh! Dunia tidak menunggu orang baik hati. Kau pikir liontin itu memilihmu karena keberanian? Tidak. Ia memilihmu karena kau mudah dikendalikan. Kau akan gagal, Reyna. Sama seperti ibumu.” Ucapan itu menusuk jantungnya. Reyna tersentak, air mata hampir jatuh, tapi lalu ia menggenggam lion

