Reruntuhan masih bergetar perlahan, seakan lorong itu bisa runtuh kapan saja. Reyna, David, dan Aditya berdiri di tengah kepulan debu, menatap ke sekeliling mencari jalur keluar. “Kalau kita tetap di sini, kita akan tertimbun,” kata Aditya, menahan napas karena debu tebal. “Harus ada jalan lain.” David mengerutkan kening, menyorotkan lampu kecil dari saku bajunya. Cahaya kuning temaram menyapu dinding penuh retakan. “Tempat seperti ini tidak mungkin hanya punya satu akses. Biasanya ada lorong rahasia untuk jaga-jaga.” Reyna menggenggam liontin di dadanya. Cahaya samar dari benda itu berdenyut, seperti merespon sesuatu. “Tunggu… aku rasa liontin ini bisa menuntun kita.” Mereka bertiga mengikuti arah cahaya yang semakin terang setiap kali Reyna melangkah. Lorong-lorong sempit terbentang,

