Reyna menarik napas panjang. Sirene makin dekat, suara langkah kaki terdengar dari tangga darurat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu… meraih tangan Aditya. David menegang. “reyna—!” “Maaf,” bisik Reyna, sebelum Aditya menariknya keluar lorong. Mereka berlari menuruni tangga darurat, melewati pintu belakang apartemen yang gelap dan licin oleh hujan. Begitu sampai di parkiran, Aditya menekan tombol remote dan sebuah mobil hitam muncul dari bayangan. Mereka masuk tergesa-gesa, dan mesin langsung meraung. “Kenapa aku harus ikut kamu?” tanya Reyna dengan suara bergetar di tengah deru hujan. Aditya meliriknya sekilas. “Karena aku tahu siapa sebenarnya orang di balik tanda tangan itu. Dan dia… jauh lebih dekat denganmu daripada yang kau kira.” Reyna menelan ludah, mencengkeram liontin di sa

