Black Mountain atau bisa disebut Gunung Hitam... Berlokasi di bagian barat dari kota Neraland, dinamakan begitu karena tanahnya yang berwarna hitam gelap. Sangat hitam...
Ada yang mengatakan jika ada yang mati disini mayatnya tidak akan pernah membusuk, tubuh mereka selamanya terpelihara dalam kegelapan yang pekat itu...
Namun, bukan itu yang membuat tempat ini sangat bersejarah. Yang membuat tempat ini sangat melegenda adalah perang yang pernah terjadi disini, tujuh tahun yang lalu..
********
Di tengah lokasi Black Mountain, berbaris rapi tentara perang menggunakan kuda, yang terlihat hanya bendera berwarna merah, mungkin mewakili suatu kota atau kerajaan.
Di sisi yang lain, terlihat dua orang di dalam hutan, satu prajurit dan satu adalah rajanya yang sedang terluka, "Tuanku, kau terluka! Kau harus--"
"Berapa banyak prajurit yang tersisa?"
"Tuanku.. Saya khawatir pasukan kita telah dimusnahkan sekarang, atau setidaknya hanya tinggal beberapa.. Setelah Jenderal Kui melakukan penyergapan di Lembah Hitam, bagaimanapun kita telah dikalahkan!..
Kita belum putus asa, harapan belum hilang!
Hutan ini adalah jalan pintas menuju Kerajaan Haiqin, kita akan meminta bantuan dari Rajanya sendiri dan kita akan membalaskan kematian teman-teman kita dan meraih kemenangan!"
"...Balas dendam? Balas dendam apa, dasar bodoh! Setelah membunuh sisa-sisa pasukanku, Kui bisa langsung menuju ke kerajaanku, dan tidak ada yang bisa menghentikannya! Tak seorangpun!
Bagaimana bisa seorang Raja dan rakyatnya membalas dendam jika tidak ada yang dibiarkan hidup atau selamat..? Aku kalah dari Kui, Crassus, aku kalah. Aku tidak layak menjadi Raja hanya seperti lalat biasa.." Raja bersimpuh di depan pedangnya, sedangkan badannya penuh darah akibat peperangan.
Raja mendongak keatas dan mengangkat pedangnya, "Nera, dewiku! Jika kau mendengarkan kami, jika kau mendengarkanku, aku berlutut memohon kepadamu untuk memberkati orang-orang di kerajaanku, lindungi mereka, beri mereka kekuatan! Semuanya, lima ratus ribu rakyatku! Tanpa terkecuali! Kematian dapat memilikiku!" Raja meletakkan pedangnya di leher--
"Tuanku... Tuan, apa yang sedang kau lakukan..!"
Zrraasshhhh--
"TIDAK!!TUANKU!!"
Pandangan Raja mulai gelap, ia merelakan nyawanya demi menyelamatkan seluruh rakyatnya. Darah segar masih mengalir dengan prajurit setianya yang terus memanggil Rajanya.
*******
Disisi lain,
"Jenderal Kui, kita telah menerima laporan dari baris depan; tampaknya bala bantuan musuh telah tiba!"
"Jenderal... Maksudnya, um, Tuanku--hanya satu yang dilaporkan. Tuanku." Sambil menunjuk ke arah barisan depan.
"Hanya satu!? Apa maksudnya ini!" Nada Jenderal terdengar tidak percaya.
"Awas..! Dia disini!"
Seseorang datang dari atas entah dari mana menuju ke tengah tengah barisan prajurit Kui, memakai pakaian serba hitam, tangan kanannya memegang pedang berwarna hitam dan di tangan kirinya seperti golok.
"Hentikan dia!" Sorak prajurit serentak.
"Ugh! Arg--" Dengan santai seluruh pasukan ia lawan sendiri, menebas kepala masing masing pasukan dengan mudahnya, tanah itu tidak lagi hitam melainkan merah karena bercampur darah.
"Menyingkir! Aku akan mengurusnya!" Seorang prajurit maju membawa kapak besar.
"Zrrraashhh", kepalanya pun jadi korban keganasan pedang hitam itu.
"Jenderal Kui, ia semakin memasuki barisan dalam, dan ia tidak bisa dihentikan! Perintahmu, Jenderal?.. apakah kita harus mundur?" Teriak prajurit.
Jenderal masih berdiri gagah, "Kita berperang untuk tanah ini bertahun-tahun... Bertahun-tahun! Dan kalian menyuruhku berhenti karena takut akan satu orang?!"
"Kuberi perintah; kerahkan kelompok perisai untuk menyerangnya. Pasti iblis yang tak terkalahkan sekalipun akan menghadapi kelelahan di tangan sepuluh ribu kelompok perisaiku!"
(Bersambung.....)