Nadine merenggangkan tubuhnya kekanan dan kekiri, melakukan beberapa gerakan pemanasan. setelah solat subuh Nadine memilih kembali mengulang tidurnya, bahkan saat matahari mulai beranjak tinggi dirinya masih malas untuk membuka mata. Ia terbangun saat ia tak mendapati Daniel di sampingnya, hampir semingguan ini ia dilanda satu penyakit “malas bangun pagi” dan yang bertugas membuat sarapan untuk mereka berdua adalah Daniel. Untungnya sang empuh tak menolak, bagaimana mau menolak jika tiap malam ia selalu merepotkan sang istri. apalagi kondisinya kini sudah membaik, ia sudah bisa berjalan tanpa kruk. “pagi mas” ucap Nadine memeluk dan mengecup pipi suaminya dari belakang. “hmm, kenapa?” Tanya Daniel tak acuh, ia masih fokus pada ponsel dan segelas kopi hitam tanpa gula. “mau bilang mak

