"Merasa puas setelah merasa bibir priaku hm?." Valen memandang muak wajah Jessy, perempuan macam Jessy tidak bisa di biarkan berkeliaran begitu saja, dia harus mendapatkan balasan atas kelakuannya. Jessy tertawa pelan, setelah itu ia mencoba memberanikan diri menatap manik mata coklat terang milik sepupunya yang sering ia jadikan kambing hitam atas kelakuannya sejak kecil. Dia mengakui kalau dirinya adalah gadis kecil yang penuh kelicikan saat itu, dia tidak suka melihat Valen selalu mendapat pujian demi pujian dari orang di sekitarnya. Kerasnya hati dan juga sifat Jessy tidak berubah meskipun dia sudah beranjak dewasa sekalipun. "Manis, meskipun sudah bekasmu." Ucapan yang sangat rendah menurut Valen, seorang wanita tidak tau diri. "Ah,,, aku lupa kau memang selalu mendapat bekasku

