Bab 10 Akhir Yang Tak Indah

1933 Kata
“Tuan-!” Marko cepat menyentuh lengan si bos, “Mohon Anda sabar!” diminta agar atasannya sabar menghadapi Chiara yang sedang bergalau tingkat dewa. “Gadis ini!” Valdin menunjuk Chiara, “Benar-benar tidak menghargai nyawanya sendiri!” menyemburlah suara marahnya. “Apa urusanmu dengan nyawaku?” Chiara juga menyembur kesal, “Anda hanya perduli mobil diperbaiki kan?” Marko tergesa menggeser duduknya ke depan Chiara, agar Valdin bisa mengontrol emosi. “Tuan!” serunya, “Saya mohon Anda tenang dan sabar!” sekali lagi dia meminta si bos bersabar menghadapi Chiara. Valdin hendak menanggapi, tapi cepat Chiara bicara. “Saya pulang, Tuan!” sambil berdiri dan tergesa meninggalkan saung. Wajahnya memerah, merasa emosinya semakin tidak terkendali. “Chiara!” Valdin menjerit dan tergesa menyusul. “Hais!” Marko menepuk kening, gegas mengejar pasangan itu. Chiara mempercepat langkahnya, tidak mau berhadapan lagi sama Valdin. Tapi pria itu tetap mengejarnya dan terhenti sebab dihadang Bram. Dia juga melihat Bram menempatkan Chiara dibelakang pria itu. “Barry!” terdengar suara Bram, “Kamu bawa Nona ke mobilnya!” Valdin memperluas pandangan, ingin tahu mengapa Bram berseru dan ternyata ada Barry yang dikenalnya lewat video rekaman Marko. Ada juga beberapa pria berpostur tubuh kekar menggenakan seragam kemeja putih dan celana panjang hitam. Lantas dipinggang semua pria itu terpasang senjata api. “Baik, Pak Bram.” Barry paham. Saat Chiara memutuskan menemui Valdin, Bram membawa Barry dan beberapa ajudan sang nona mengawal diam-diam. Lantas Bram pun mengawasi putri mendiang Nathan dari salah satu saung. Begitu tuan putri tergesa turun dari saung, dia cepat meninggalkan saung, menanti sang putri di parkiran. Chiara menurunkan ransel, mengeluarkan kunci motor dari saku depan bawah tas dan diberikan ke Barry. “Kamu-“ dia pun bicara ke asisten Doel itu, “Suruh Kun kemudikan motor saya.” Diturunkan perintah. “Baik, Nona.” Barry mengambil kunci dan ransel, “Saya antar dulu nona ke mobil.” Lantas menggiring tuan putri berjalan. Valdin dan Marko melihat semua ini. “Tuan muda-“ Bram menegur Valdin dengan sopan, “Mohon maaf,” bicara sama sang pangeran yang memandangnya, “Sampai di sini saja Anda dengan Nona Kami.” Diminta pria itu tidak lagi mengejar Chiara, “Lantas, mohon setelah Nona memberi uangnya untuk perbaikan mobil Anda, tidak lagi mengusik Nona.” Valdin terperangah mendengar semua ini, hendak menanggapi, tapi kedua mata melihat Chiara kembali. Sang gadis langsung meraih lengan Bram dari belakang. “Ayo, Paman!” terdengar pula suara gadis ini setengah merengek, “Paman ngga usah bicara apa pun sama Tuan Arogan itu.” Imbuh dia menarik sang pengasuh meninggalkan Valdin dan Marko. Bram menghela napas pelan, tahu Chiara takut dia menghajar Valdin. Dibawa nonanya ke mobil, dibantu naik ke dalam Jaguar mewah yang baru sebulan silam dikirim Brylee untuk sang gadis. Mobil yang lama diganti Jaguar ini. Padahal Chiara tidak meminta semua itu, tapi sang ayah asuh menyadari dia perlu mobil baru. Valdin dan Marko terperangah melihat mobil itu, saling memandang. Chiara yang pernah kerja sebagai pengantar paket dan cucu pengelola perguruan kungfu punya mobil Jaguar keluaran tahun terbaru? *** Valdin mendorong pintu masuk IGD Biomedika Hospital, lantas dengan langkah panjang menuju ruang kerjanya yang berada di belakang unit penanganan pasien dewasa. Di rumah sakit ini, dia punya dua ruang kerja, satu di lantai tiga gedung A dan lainnya di IGD. Kedatangan tuan muda dilihat dokter Marcel, kepala IGD merangkap sahabat karibnya dari kecil. “Valdin?!” dia sebut nama Valdin, “Hais!” serunya sambil meletakan map berkas rekam medis ditangan ke meja, “Dari kemarin menghilang, sekarang muncul dengan wajah thunder strom!” gegas, menyusul sahabatnya. Valdin setelah Chiara dibawa pergi Bram, terpaksa ke rumah sakit sebab teringat harus dinas di IGD. Dia hanya menyuruh Marko menyusul Chiara yang sudah disadap melalui chip kecil yang ditempel ke belakang telinga kanan si nona, saat mengecup leher sang gadis selain mengecek denyut nadi. Mengapa melakukan ini sebab selalu ingin tahu kemana dan apa yang dilakukan Chiara. Dia serius jatuh cinta ke gadis ini, ingin mendampingi si nona yang terlihat banyak masalah seperti dia. Dokter Marcel sampai di pintu ruang kerja Valdin yang terbuka lebar, perlahan masuk ke dalam ruangan, lantas duduk di tepi meja kerja. Valdin melihat dia, menghela napas pelan. “Apa ada yang tidak beres saat gue tidak di sini?” lantas memberi pertanyaan ke sahabatnya. “Ada.” Dokter Marcel menyahut, “Loe yang tidak beresnya!” imbuh dia menunjuk Valdin. “Gue?” Valdin terheran. “Iye!” sang dokter menganggukan kepala, “Loe menghilang setelah dari pernikahan Karla. Ponsel loe tidak bisa dihubungi dan Marko pun tidak tahu di mana elo.” Dituturkan mengapa mengatakan Valdin tidak beres, “Meski gue yakin Marko tahu loe di mana.” Imbuh dia, sebab tidak mungkin Valdin tidak menghubungi si asisten. Ponsel Valdin punya dua jalur dalam satu nomor. Jalur kedua adalah akses dia dan Marko. Valdin mendengar ini menghela napas, “Gue nenangin diri, Cel.” “Kemana?” dokter Marcel menatap Valdin dengan menyelidik, “Apa loe tahu,” dikembangkan pembicaraan, “Emak loe ama Tante Anita bergantian kemari mencari elo!” Valdin terperanjat, tapi kemudian mendengus, “Tumben Mama mencari gue, biasanya hanya Tante Anita saja.” “Emak loe bawa cewek cakep, Din.” “Maksud loe?” “Siapa cewek yang dibawa emak gue?” “Adik kelas kita di SMU, Miranda Bartolie.” Sang dokter kembali berpikir, lantas, “Hais!” serunya dengan wajah kesal, “Untuk apa Mama bawa dia kemari?” “Gue rasa, emak loe minta Miranda menghibur elo yang baru patah hati.” Valdin terkesiap, lalu mendengus kesal, “Untung kemarin gue ngga kemari.” Merasa lega kemarin tidak ke rumah sakit, “Kalau tidak pasti dipaksa emak gue agar mau ditemani Miranda.” “Kenapa memangnya kalau ditemani Miranda? Elo kan biasa ditemani cewek disaat jutek, penat atau terkena masalah.” “Amit-amit ditemani Miranda!” Valdin mencibirkan sedikit bibir ke depan, “Dia janda gatel, tauk! Mending gue nyewa PSK deh.” “Hehehe-“ dokter Marcel terkekeh, “Din, loe kemana sebenarnya? Lantas mengapa sekarang wajah loe thunder strom?” *** Di dalam satu ruang kerja yang berada di Pusat Pelatihan Kickboxing, tampak Chiara duduk santai di sofa sambil sesekali menikmati sebatang cigarette. Di sofa lain ada Bian, owner Pusat Pelatihan Kickboxing dan pelatih sang putri. “Jadi-“ terdengar suara Bian, “Loe minta gue bantu dapat uang senilai 250 juta, karena loe ngga mau meminjam dari gue atau yang lain, termasuk tidak ingin meminta bantuan Om Lee.” Chiara menganggukan kepala, karena dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, dia teringat Bian. Selama ini, dia mendapat tambahan uang untuk melunasi hutang-hutang si kakek dari Bian, tapi tidak meminjam ke pelatihnya ini. Dia minta diikutsertakan dalam liga judi kickboxing wanita. Tadinya Bian tidak mau, takut ketahuan sama Doel. Si kakek mengizinkan Chiara ikut latihan kickboxing hanya untuk mengusir kejenuhan si cucu sebagai guru kungfu. Tapi karena Chiara merengek dengan mengemukan alasan untuk melunasi hutang sang kakek, dengan terpaksa mengikutsertakan si nona dalam liga judi itu. Apa saat ini ada Marko? Ada, sebab si asisten berhasil menyusul berkat copy data scout milik Valdin. Sang asisten pun dengan cerdik masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang, karena kalau lewat pintu depan pasti ketemu Bram. Dia segan ke Bram yang sangar. Kini dia menguping pembicaraan tersebut dengan headset ponsel. Dalam menu scout, bisa pula mendengar percakapan yang disadap. “Ara,” Bian bicara lagi, “Kakek loe kan udah melarang gue mengikutsertakan loe di liga judi, gegara loe koma akibat kepala loe dihajar habis Atila.” Dipandang Chiara, “Kalau nanti beliau tahu loe kembali ke liga judi gimana? Gue bisa dikulitin kakek loe itu.” Doel akhirnya tahu si cucu ikut liga judi karena Bram mengabari kalau sang cucu mengalami koma dan dirawat ICU. Setelah menengok cucunya, didamprat Bian juga Bram, lantas mengeluarkan ultimatum tidak boleh mengikutsertakan Chiara dalam liga judi kickboxing. “Bian!” Chiara mematikan cigarette ke dalam asbak, “Gue ngga ada pilihan selain itu.” “Kalau gitu loe mending hubungin Om Lee ya.” Bian menawarkan solusi, “Please, Ara.” Rengeknya, “Jujur, sejak loe koma itu, gue menyesal banget menjadikan loe atlet liga judi. Jadi kalau saat ini, gue kembalikan itu ke elo, lantas loe koma lagi, gimana?” “Doain yang baek dong!” Chiara merenggut, “Sudah, keputusan gue tetap.” Bian menepuk kening, tidak tahu bagaimana mencegah Chiara agar tidak ikut liga judi lagi demi alasan apa pun. *** Valdin berhenti membaca laporan kerja tim IGD yang diberikan dokter Marcel. Pikiran dia tidak focus. Sebab belum juga ada kabar dari Marko yang diutus mengutit Chiara. Diusap-usap wajahnya yang tampak keruh. Kringg!!! Ponselnya berdering nada khusus panggilan masuk dari Marko. Gegas, diraih ponsel dan menjawab panggilan tersebut. “Ya, Marko? Kamu di mana sekarang? Apa masih mengutit Chiara?” “Masih, Tuan.” Terdengar suara sahutan Marko. “Kamu di mana ini?” Valdin mulai mendengar suara ramai di sekitar asistennya itu, “Apa Ara ke night club?” dikira Chiara ke night club. “Tuan, Nona berada di gedung Super Boxing!” Valdin menyimak jawaban Marko sambil dipikirkan, “Ara di gedung Super Boxing? Apa yang kamu maksud gedung tempat liga judi legal yang berlokasi di Mangga Dua?” “Iya, Tuan!” “Ngapain dia di sana?” “Nona mau bertarung kickboxing female, Tuan!” “Apa-?!” Valdin terkejut bukan main sampai berdiri dari duduknya, “Hais!” decaknya, “Ngga beres ini!” gegas, dia mengakhiri panggilan telpon dari Marko, menyambar kunci mobil dari meja dan terbirit meninggalkan ruang kerjanya. *** Marko terbirit mendekati Valdin yang mencarinya di antara para pengunjung ke liga judi kickboxing. Mereka berkomunikasi dengan ponsel. Suasana di sini riuh, selain para penonton sibuk memasang taruhan ke atlet yang dijagokan pihak penyelenggara. “Tuan muda!” serunya berhasil ke dekat sang presdir. “Ara mana, Marko?” Valdin segera mencengkram kedua lengan asistennya ini, “Mengapa Kamu tidak mencegah dia ikut liga ini? Lalu apa para ajudannya membiarkan dia ikut liga judi, hmm?” “Hais, Tuan!” Marko melepas kedua tanga si bos dari lengannya, “Nona keras hati ikut liga ini demi menghasilkan uang untuk membayar hutang-hutang kakeknya dan ke anda.” Valdin terkesiap, “Apa katamu? Hutang-hutang kakeknya?” “Betul Tuan, itu yang saya dengar dari percakapan Nona sama Tuan Bian pelatihnya.” Sang presdir tercenung, ‘Jadi Ara terbebani melunasi hutang-hutang kakeknya?’ dia baru tahu masalah lain yang mengenai Chiara. ‘Mengapa Ara yang melunasi? Bukan kah si kakek banyak duit sebab pemilik perguruan kungfu itu?’ dia merasa aneh mengapa sang nona yang terbeban melunasi hutang Doel yang kini diyakini owner perguruan kungfu. “Tuan!” Valdin tersadar, “Lantas sekarang Ara di mana?” “Di arena laga, Tuan.” “Apa?!” Valdin terkejut, “Kamu sudah reservasi tempat untuk saya mengawasi Ara?” Marko menganggukan kepala, “Saya juga pasang taruhan Anda untuk Nona.” Mendengar ini, Valdin menjitak kening asisten, “Kenapa pasang taruhan? Harusnya Kamu bawa Ara keluar dari sini!” dimarahin si asisten yang salah langkah. “Gimana mau melarikan Nona, sedangkan Nona dikawal Tuan Bian dan para ajudan Nona ke dalam ruang tarung.” Valdin meninju tangannya yang dikepal ke udara, sesuatu yang mustahil melarikan Chiara yang dikawal ketat Bram, Barry, Bian dan para ajudan. “Sudah, sudah!” Valdin bicara lagi, “Lekas bawa saya ke tempat yang kamu reservasi itu. Saya harus mengawasi Ara!” ditarik lengan asistennya, membawa mereka menuju ruangan tempat pertarungan dua atlet kickboxing liga judi saat ini. Wajah dia terlihat cemas luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN