Bab 4 - Hati Pertama

1673 Kata
Mereka bertiga duduk di salah satu kantin. Dan memakan makanan mereka. Gisel dan Alice sedang bergosip. Sedangkan Irenee fokus terhadap roti bakarnya. "Sst.. Stt.." senggol Gisel ke Irenee. Irenee mentap Gisel dengan kesal. Apa dari raut muka Irenee bete. Gisel menunjukan sesuatu di arah pintu masuk kantin. Irenee paham. Dia melihat ke arah yang di tunjukan Gisell. Reyhan dengan Mentari. Memang tidak semesra tadi dan terkesan berjalan sendiri sendiri tapi tetap saja hal itu membuat Irenee marah dan kesal. Irenee melihat seorang laki laki masuk ke dalam kantin. Dia tau anak itu adalah orang yang sering di ejek babu oleh teman temannya. Orang culun. Tidak banyak bicara. Irenee langsung berjalan ke arah laki laki itu. Semua pasang mata menatapnya. Termasuk Darrell saudara kembarnya . "Oi." panggil Irenee. Laki laki itu menoleh ke kanan ke kiri tapi tidak menemukan orang lain lalu dia menunjuk dirinya sendiri. Irenee menganguk. "Kenapa?" tanyanya penasaran. "Kenalin Irenee" ujarnya dengan menjulurkan tangannya. "Hah." kejutnya. "Jabat dong.. Kok malah hah." Laki-laki itu menjabat tangan Irenee dengan gemetar. Semua orang di kantin langsung tenang melihat pemandangan itu. Seorang babu berjabat tangan dengan seorang queen bee. "Azam." kenalnya. "Jomblo?" Pertanyaan Irenee sukses membuat semua orang di kantin shock. Darrell sendiri melihat adiknya dengan tajam. Ulah apa lagi yang akan di lakukan adiknya itu. Azam menganguk sebagai jawabannya. "Mulai sekarang kita pacaran." Ucap Irenee di iringi dengan ciuman di pipi Azam. Azam melotot kaget. Jantungnya berdebar keras. Sedangkan Sean yang meminum esnya langsung menyemburkannya melihat tingkah sepupunya itu. Reyhan sendiri melihatnya dengan perasaan yang susah di jelaskan. Saking kagetnya mulut Darrell sendiri sudah terbuka. Orang orang di kantin tidak jauh berbeda dengan reaksi Sean. Banyak laki laki yang menyemburkan makanan dan minumnya. Bahkan anak perempuan yang sedang menambal lipstiknya pun mencoret sampe pipi. Azam tidak serius menanggapi perkataan Irenee. Mana mungkin perempuan secantik dan sekaya Irenee mau dengannya. Sepertinya dirinya mimpi di siang bolong. Meskipun sudah beranggapan jika dirinya hanya mimpi, debaran di hati Azam masih menggila. Azam tidak bisa melupakan ciuman di pipinya tadi. Itu adalah ciuman pertama dari seorang gadis selain ibu dan adiknya. Bell pulang telah berbunyi. Azam langsung keluar dari kelasnya dan segera pulang. Irenee sendiri menunggu Azam tetapi dia tidak menemukan Azam dimanapun. Sesampainya di rumah, Azam segera makan siang dan mengganti pakaiannya. Selesai melakukannya Azam langsung menuju pasar dekat rumahnya dan menjadi tukang pinggul yang membantu mengangkat angkat sembako. Irenee pulang ke rumah dengan muka ditekuk karena tidak menemukan Azam dimana pun. Setidaknya dia harus pamer kemesraan di depan Reyhan. Agar Reyhan cemburu. Sean sendiri sudah hedon dengan sepupunya. Dia langsung menghampiri sepupunya yang sedang duduk makan buah dengan menonton tv. "Rin, lu tadi kesurupan setan dari mana kok nembak Babu sih." kata Sean yang sudah menangkup wajah Irenee. "Namanya Azam bukan Babu. Awas aja kalo Sean manggil dia Babu lagi." Kesal Irenee. "Mending juga sama Reyhan Rin." "Irenee sukanya sama Azam." "Dih, sok bisa move on lu!" Goda Sean. Irenee langsung melempar bantal di sampingnya itu. Reyhan mantan pacar Irenee. Jika Reyhan bisa move on. Irenee juga harus bisa move on. Jika Reyhan pacaran sama orang culun kelas bawah. Irenee juga akan mengikutinya. Irenee tidak akan sakit hati jika Reyhan memacari perempuan yang lebih cantik seksi kaya pinter darinya. Pokoknya lebih lebih darinya. Setidaknya hal itu akan membuatnya mengerti kenapa Reyhan lebih memilihnya. "Btw lo dulu putus sama Reyhan kenapa?" tanya Sean. "Sono tanya tanya temen lu." Sean berdecak. Mood Irenee benar benar buruk akhir akhir ini. Irenee sendiri tidak tau kenapa Reyhan memutuskannya. Jika mengingatnya saja Irenee akan menangis dulu. Tapi sekarang hanya kemarahan yang menyelimutinya. "Galak benerr neng." goda Sean. ***❤*** Pagi ini setelah mengantarkan semua kue Azam menjadi tatapan oleh seluruh sekolahan. Padahal menurutnya tidak ada yang salah dengannya. Azam masuk ke dalam kelas. Dan mulai membuka buku belajar. Dia dapat beasiswa masuk sekolah ini. Jadi dia berusaha agar nilainya tetap teratas. Agar beasiswa tidak di cabut. Azam bersyukur Darrell tidak masuk kelas IPA yang sama sepertinya. Jika saja Darrell masuk kelas IPA sudah di pastikan beasiswanya akan di cabut karena ia kalah nilai. Apalagi Azam pernah tidak sengaja mendengar guru guru sedang bergosip di kantor jika Darrell sudah menyelesaikan sekolahnya 4 tahun lalu. Azam sebenarnya tidak percaya. Tapi waktu itu Azam mewakili olimpiade fisika. Dan dia mendapat juara 1. Lain halnya dengan Darrell yang menyabet 4 juara 1 sekaligus di mata pelajaran Matematika, Kimia, Ekonomi, teknologi Informatika. Barulah dia sadar jika Darrell manusia yang sangat jenius. Pelajaran matematika pertama di kelas Azam. Banyak teman temannya yang terlambat sehingga dilarang masuk ke kelas. Bel istirahat terdengar anak anak yang tadinya suntuk langsung segar bugar menuju kantin. "Zam hari ini lo ke kantin nggak? " tanya Iqbal. Iqbal ini temen baikku. Satu satunya teman yang kumiliki kayaknya. Dia temenku sejak TK. Mungkin karena itu kami selalu masuk sekolah yang sama dan jadi sahabat deket. "Iya." "Lah tumben, kenapa?? Jadi bener gosip yang anak anak kemaren bilang lo pacaran sama kembarannya Darrell ?" tanya Iqbal. "Nyata ya bal? Aku pikir mimpi kemaren." jawab Azam. Azam kembali mengingat perempuan bermata biru itu. Jantung azam menggila hanya mengingatnya saja. "Zam, Azam!!" teriak Iqbal "Kenapa bal?" sadar Azam. "Yaelahh masih pagi juga lu udah bengong. Mikirin apaan? Hutang?" "Enak aja. Amit-amit." jawab Azam dengan menggelengkan tangan dan kepalanya. "Ya lagian gue dari tadi ngomong lo diam aja." "Aku lagi mikir sampe kantin mau pesen apa." dalih Azam. Mereka sampe kantin. Tapi baru menuju makanan yang di pesannya sudah ada yang berteriak memanggil Azam. "Hoi Azam." teriak orang tersebut. Azam dan Iqbal langsung melihat ke arah orang itu. Mereka kaget karena selama ini Azam selalu di panggil Babu tiba tiba ada yang memanggil namanya. "Zam, lo nggak bikin masalah kan sama anak anak itu." tanya Iqbal panik. Dia tidak akan bisa menolong Azam jika sampai Azam di bully. "Aku nggak bikin masalah kok." jawab Azam panik. Dia menutupi paniknya dengan mencoba bersikap tenang. "Yaelah, cepetan sini." suruh Sean. Mereka berdua langsung mendekat ke arah Sean. "Eh Ril, Cas sono pindah duduk sampingnya Darrell. Gue mau wawancara kakak ipar gue nih." Aril dan Lucas yang semula tidak mau langsung menurutinya saat Sean berjanji akan mentraktirnya nanti malam. "Sini duduk sini." Suruh Sean. Mereka berdua langsung duduk. "Ngapain lihat-lihat." kata Sean saat seluruh anak di kantin melihat ke mejanya. Barulah mereka tidak memperhatikan kejadian di meja Sean. Meskipun masih ada beberapa meja yang memperhatikan meja Sean. Azam dan Iqbal sudah merasa tidak nyaman sejak Sean memanggilnya. Terlebih Reyhan yang terkenal paling baik di antara mereka berlima melihat Azam seakan mengulitinya. Darrell sendiri melihat Azam tajam. Kalau itu Azam masih maklum karena dia pacaran sama kembarannya. Sedangkan Lucas yang terkenal paling kejam di antara mereka tidak terlalu peduli dengan Azam dan Iqbal. Mereka Bisa bernafas lega. Aril sendiri sedikit memperhatikan kedua orang yang di panggil Sean. Terutama Azam, pasalnya Aril ini mau ngedeketin Irenee. Tapi sayang Irenee nembak Azam. Padahal kalau Aril lihat cakepan dia kemana mana loh ini. "Lo siapa?" tanya sean ke Iqbal. "Iqbal." "Oo.. Csnya Azam." "Lo mau pesen apa?" tanya sean. Iqbal dan Azam memesan Soto. Setelah itu Sean berteriak lagi. "Udin." panggilnya ke seseorang. Orang yang merasa di panggil udin itu menoleh. "Pesenin soto 2, es jeruknya 2. Gpl" Anak cungkring yang di panggil Udin itu langsung mengiyakan. "Eh gua gorengan 5rb." pinta Lucas. "Udin tambah gorengan 5 ribu." teriak Sean. Setelah mengurus pesanan mereka Sean memperhatikan Azam. Baru saja Sean akan mengucapkan sesuatu sudah ada yang mendorong Sean duduk di tengah tengah antara Sean dan Azam. "Zam kamu ngapain disini?" tanya Irenee. "Eh itu." Irenee langsung menatap Sean tajam. "Lo berani bully pacar gue. Gue gantung lo di tiang bendera." peringat Irenee. "Gue pesenin mereka makanan malah " jawab Sean. "Beneran?" "Iya." Setelah mengatakan hal itu soto yang di pesenkan Sean datang. Sean memberikan uangnya. "makasih." Ucap Azam dan Iqbal. "Din, gue roti bakar ya kayak biasanya. Uangnya Sean masih ada kembaliannya kan? " Udin menganguk. "Yaudah pake uangnya Sean." Dia menganguk lagi. "Seharusnya kalau kamu nyuruh dia bukannya lebih baik bilang tolong ya?" tegur Azam. Mereka semua melihat Azam. Terlebih Sean dan Irenee. "Tolong din beliin aku roti bakar kayak biasanya." ucap Irenee lagi kali ini di iringi dengan senyuman. Orang yang di panggil Udin itu tersenyum dan menganguk. Darrell sendiri kaget melihat Irenee yang menuruti Azam. "Makasih pelajarannya." ucap Irenee tulus. Dia ingat perkataan dadynya untuk jangan lupa menggunakan kata Tolong, maaf, dan makasih. "Oh ya yan, Dia emang namanya Udin ya?? Kok gue nggak pernah denger dia ngomong ya?" "Namanya Farel." saut Reyhan. Irenee menatapnya tidak percaya. Reyhan mau berbicara dengannya. Sepertinya keputusan menjadikan Azam sebagai pacar benar. Tunggu tunggu kan Irenee mau moveon rencananya. "Dia bisu." jawab Sean. Mendengar perkataan itu Irenee langsung bangun menghampiri Farel dan meminta maaf. Azam memperhatikannya dengan menahan senyumnya. Gadis baik pikirnya. Irenee kembali dan duduk di samping Azam seperti sedia kala. Dan memakan rotinya. "Sean kalo lu nyuruh si Udin eh kok Udin Farel maksud gue, nyuruh dia lagi gue laporin lu ke mami. Biar uang jajan lo potong." Ancam Irenee. "Laporin aja." jawab Sean. "Oh gue laporin juga kemaren lo habis dari klub terus bawa cewek ke hotel. Gue laporin ke papi juga kalo lo durhaka banget sama mami lo, sering bolos pelajaran ngajakin Darrell." lanjut Irenee. Sean tersenyum. "Gue laporin ke Dady sama Mere lo, lo bully Mentari gara gara cemburu dia deket sama Reyhan. Gue juga bakal bilang lo pindah sekolah gara Reyhan. Bukan gara gara Darrell." Irenee kaget mendengar Sean. Dia mengatakan semua itu di depan Reyhan. Reyhan loh ini. Irenee tidak habis pikir. Reyhan dan Azam menatap Irenee. Dia menahan amarahnya dan menatap Sean tajam. "Jangan dengerin omongannya Sean Zam, dia suka ngarang emang. Tanya aja ke Darrell. Gue pindah sekolah gara gara kangen sama Darrell. Ya kan Kak?" Irene menatap Darrell. "Iya." Jawaban Darrell membuat Irene tenang. Jika saja tadi Darrell menjawab tidak sudah Irenee jamin. Dia tidak akan mau ngomong lagi sama Darrell. "Darrell di pihaknya Irenee kan? " "Iya." jawab Darrell. "Pengkhianat." ucap Sean. Darrell cuek. Sean tersenyum terpaksa. "Gue nggak bakal gangguin Farel lagi." "Good!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN