Di sinilah aku, di meja kerja seperti biasanya. Memanggil nomor antrean pasien. Terkadang ikut mengantarkan mereka menemui dokter umum di puskesmas ini. Seringnya, aku ikut mengukur tekanan darah, berat badan lalu mencatatnya sebelum diberikan ke dokter. Sedari datang aku menyibukkan diri pada kerjaan. Meski beberapa dari mereka melarangku dan memintaku untuk istirahat. Namun, apa arti semua ini? Jika hatiku tak tenang. Pikiranku melayang jauh bersama Abi. "Semangat. Jangan sampai takdir-Nya membuat kamu kehilangan iman. Perbanyak istigfar, Lis. Aku yakin kamu kuat," ucap Agus ketika kami sedang makan siang di jam istirahat. Laki-laki itu datang menghampiriku. Mengajakku makan di tempat favorit kami. Agus sering menasihati seperti khawatir dengan keadaanku saat ini. Mulanya, aku mera

