"Melamun terus, mau aku pesankan lagi saus kepitingnya?" "Enggak. Ini aja susah habisinya." "Oya, Lis. Ibu Abi suka makan apa?" tanya Agus lagi. "Kurang tahu sih, tapi dia enggak suka sama yang manis-manis." "Karena udah manis? Iya kan?" canda Agus. Aku mengangguk. "Oya, Gus. Menurut kamu terapi yang cocok buat Abi, yang mana ya?" "Dokternya sarani yang mana?" "Enggak tahu." Aku menggeleng lemah. Andai aku dibolehkan mengurusi Abi mungkin aku tak bertanya lagi dengan siapa pun. Cukup bekerja sama dengan baik bersama dokter. Sayangnya, jangankan ingin membantu terapi Abi, mendengar kabarnya saja aku harus dari orang lain. Ya Tuhan, kenapa Ibu berubah begitu cepat. Adakah sesuatu yang masih meragukannya? "Emang terapinya gimana?" "Aku juga kurang paham sih, wong aku cuma

