Patah

1650 Kata

Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Waalaikumsalam," balasku menutup sambungan. Sejenak aku mengerutkan kening, karena tiba-tiba saja siang ini, Abi meneleponku hanya sekadar bertanya, apa aku sudah makan? "Ehem." Agus terbatuk-batuk dengan sengaja. Kupandangi wajah Agus dengan perasaan entah. Bagaimana pun dia adalah orang yang ikut senang ketika kebahagian ada bersamaku. "Siapa? Siapa tahu kan, kalian berjodoh." "Mohon doanya saja ya, pemirsah semuanya," ucapku dengan tangan saling menangkup, berlagak seperti selebriti di TV. Keesokannya aku perlahan menyadari. Entah sejak kapan, tetapi setiap hari menjelang makan siang atau hendak tidur Abi meneleponku, berbincang-bincang tentang hal yang tak penting. Kadang pagi hari dia meneleponku dan bertanya apa a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN