"Kamu sudah sarapan?" tanya Pak Rizal ketika aku tiba di kafe. Kami sedang menunggu Agus, untuk mengajak Nesa bertemu sekali lagi. "Saya enggak biasa sarapan, Pak." Aku menjawab sambil memberikan seulas senyuman. "Kamu sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Agus?" tanyanya penuh selidik. Tanpa sepengetahuanku ternyata Pak Rizal dan Agus sudah mengajak keluarga Nesa bertemu. Mereka sepakat untuk membicarakan masalah ini bersama-sama. Tidak hanya dengan keluargaku, tetapi juga keluarga Tante Mira. Kemarin, aku dan Agus sudah bicara langsung ke pada Tante Mira yang sudah kupanggil Ibu. Akan tetapi, perempuan yang menyukai kue tradisional itu seperti tak percaya. Ibu hanya mengangguk-angguk saja. "Nanti, biar Bapak yang bicara," ujarnya penuh wibawa. Aku lekas mengangguk. "Kamu suda

