Aku melirik ke sekeliling, tak ada orang lain selain Aku dan Agus. Lima laki-laki yang memukul Agus, sudah pergi kabur entah kemana. Syukurlah, Agus tidak apa-apa hanya beberapa bagian tubuhnya yang memar. Entah siapa yang mencegat kami ketika pulang dari rumah Abi. Di tengah perjalanan yang sepi sepeda motor kami dipaksa berhenti. Tiba-tiba saja lima laki-laki itu datang memukul Agus. Aku tak mengenal satu pun dari mereka. Ketika mereka pergi, aku hanya sempat memfoto plat mobil hitam yang mereka kendarai. "Siapa ya," tanyaku pada Agus yang masih meringis. Ketegangan di wajah Agus sudah mengendur. Aku segera mengangkat tangannya, lalu mencari di mana lagi luka yang dipukul orang tersebut. "Perasaan aku enggak punya musuh," kata Agus sembari menatap luka di wajahnya. Dia masih terd

