"Sayang, besok-besok ikut Mama arisan, ya?" Aku yang tengah melangkah mengikuti Mama melihat tanamannya, otomatis terhenti. Kekagumanku dengan berbagai macam kembang yang tertata rapi tiba-tiba lenyap. Aku harus mencari alasan untuk menghindar. "Mau kan, Sayang?" "Heem. Iya Ma. Kapan?" "Masih lama, rencananya Mama sama teman-teman mau arisan di luar gitu. Kamu ngobrolnya sama Angga. O, Iya. Kamu mau lihat fotonya ndak?" "Enggak usah, Ma. Sulis yakin dengan pilihan Mama." Aduh, bagaimana caranya ngomong sama Mama, dari mana mulainya. Ya Tuhan. Aku harus apa? "Ma, Sulis boleh ngomong enggak?" "Ya, boleh dong, Sayang. Sulis mau bilang apa?" "A-anu, Ma. Enggak apa-apa. Enggak jadi Aduh jadi lupa." Aku menghela lalu memejamkan mata sejenak, sambil berpikir mencari kata-kata ya

