"Iya, Dok. Nanti kami siapkan." Beno memberikan jawabannya, sedangkan aku dan Ibu tak bisa berkata apa-apa lagi. "Dok, apa anak saya bisa diselamatkan?" Setelah hening beberapa detik, Tante Mira akhirnya bertanya di sela isaknya. "Saya dan rekan di sini berusaha semaksimal mungkin. Dan tentunya kita banyak berdoa, Bu." "Iya, lakukan saja yang terbaik, Dok. Tolong selamatkan dia," pintaku sambil menyeka air mata. "Itu pasti, Mbak. Karena sudah menjadi tugas dan kewajiban kami," katanya, "baiklah, saya masih ditunggu pasien yang lain," imbuhnya lagi. Kami kembali menunggu di ruang tunggu. Tak ada yang boleh masuk karena masih banyak pemeriksaan. Tidak lama kemudian Abi keluar dari ruangan. Dengan jarum infus yang tertancap di tangan dan juga alat medis lainnya. Aku dan keluarga lek

