Kasihan Nesa

1918 Kata

Ah, telat! Dalam ruangan tak seberapa besar itu, kulihat Nesa dan teman-temannya yang lain sudah duduk mengobrol. Sekitar lima belas orang yang datang menjenguk. Ibu tampak tak nyaman karena terlihat jelas sambutannya begitu dingin. Begitu pun aku. Setelah mempersilakan mereka bertamu, aku keluar menemui seorang suster. Dan memintanya untuk membatas jam besuk khusus Abi. Kujelaskan bagaimana kondisi si pasien yang akhirnya disetujui olehnya. Lima belas menit waktu yang diberikan suster, setelah itu mereka meminta para tamu di ruangan ini untuk segera pulang. Ada rasa bersalah ketika melihat teman yang lain pulang karena sedari tadi mereka tampak akrab. Sebagian dari mereka cukup mengerti dengan kondisi Abi. Terbukti dari obrolannya yang tak menyinggung apa pun yang berkaitan dengan i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN