"Dapati laki-laki yang baik dan peduli sama kita susah-susah gampang, Lis. Apa lagi untuk menikah, kita butuh orang yang mau bersabar, berjuang, dan ikhlas secara terus menerus sampai maut yang saling memisahkan." Aku berlapang d**a, ketika diberi nasihat oleh Mbak Sarah. Perempuan di sampingku ini, benar-benar membuatku merasa malu. Karena apa yang dikatakannya itu benar dan aku harusnya memperjuangkan Abi, bukan malah ingin melepaskan. "Sekarang, Mbak tanya, Sulis masih sayang sama Abi? Masih mau melihat senyum Mama, enggak?" tanya Mbak Sarah sambil menatapku lekat. Aku memang patut bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan peduli denganku. Walaupun Mbak Sarah tak punya pertalian darah denganku, tapi kasih sayang berlimpah. Tak segan-segan dia memberikan nasihatnya untukk

