Hati-hati

1604 Kata

Aku menunduk dalam-dalam, kupeluki lutut yang terasa lemas. Dadaku kembali sesak, air mataku lagi-lagi mengalir pelan. Aku duduk di kursi menghadap laptop yang menyala. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi aku belum bisa tertidur. Dalam kepalaku kenangan tentang Abi kembali berputar-putar. Puas aku menepisnya dari ingatan. Akan tetapi, sia-sia saja. Abi selalu ada dalam setiap napasku. Ya Tuhan, kenapa tentang Abi serupa benang kusut yang sulit untuk aku urai. Semua hal yang aku lakukan selalu mengingatkanku padanya. Berkali-kali aku mencoba fokus pada tulisanku, tetapi tetap saja nihil! Yang ada dalam pikiranku hanya dia. Aku menghela napas panjang, laptop yang sedari tadi tak tersentuh seakan menertawakan keadaanku. Karena untuk ke sekian kalinya, aku yang semula

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN