Kami tak bisa berbuat banyak. Begitu pun dengan keluarga Nesa sendiri. Syukurlah Orang tuanya bisa diajak kooperatif. Mereka yang awalnya begitu keberatan dengan keputusan Ibu, akhirnya bisa menerima. Gadis itu sendiri pun menyadari kesalahannya. "Tapi, dia sehatkan?" tanyaku. "Iya, sehat. Enggak tahu hatinya." Agus meneguk teh hangat yang kusuguhkan. "Kalau hati biasanya rumit," candaku. "Iya, benar! Ada orang yang terlihat baik-baik saja, tapi hatinya luka. Orang kalau sudah luka biasanya sulit untuk menikmati hidup. Bawaannya melamun aja, habis gitu enggak mau makan lagi. Benar-benar merepotkan orang saja. Mati aja kalau enggak bisa move on!" sewot Agus yang membuatku seketika terdiam. "Namanya juga perasaan memang sulit untuk diarahkan." Aku menatap Agus dengan serius. "Yah

