Di Ruang Tengah
Titah mengajari anak-anaknya mengerjakan PR.
Titah bertanya, "Nah, sekarang Bunda tanya, siapa pahlawan wanita dari Aceh?"
Zahwa menjawab, "Tidak tahu, Bunda, Zahwa lupa."
Titah bertanya, "Masa sih…?"
Dzaki menjawab, "Ah, tahu jawabannya sekarang."
Zahwa menegaskan, "Iya, Bunda, beneran Zahwa lupa."
Titah memberi tahu, "Ya sudah, Bunda kasih tahu ya. Pahlawan wanita dari Aceh itu bernama Cut Nyak Dhien."
Zahwa berkata, "Oh, iya, Bun, Zahwa baru ingat."
Titah melanjutkan, "Oke, sekarang Bunda tanya lagi ya."
Zahwa menjawab, "Iya, Bunda…"
Titah bertanya, "Kalau pahlawan wanita dari Jepara siapa?"
Zahwa menjawab, "Oh, kalau itu Zahwa tahu dong, Bunda."
Titah bertanya, "Siapa?"
Zahwa menjawab, "Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini, kan Bunda?"
Titah bertanya, "Iya, benar. Bukunya berjudul?"
Zahwa menjawab, "Habis Gelap Terbitlah Terang kan, Bun?"
Titah memuji, "Benar, pintar kamu, Zahwa."
Zahwa bersorak, "Siapa dulu anak Bunda!"
Zahwa, Dzaki, dan Titah tertawa bersama.
Dzaka memberi tahu, "Sudah salat ya, Bunda, Dzaka."
Titah mengizinkan, "Nah, begitu dong. Sekarang kamu boleh lanjutkan lagi baca komiknya."
Daffa Meminta Bantuan
Daffa memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
Titah dan anak-anaknya menjawab, "Waalaikumussalam…"
Daffa memanggil Titah, "Yank…"
Titah bertanya, "Iya, Ay, kenapa?"
Daffa meminta, "Tolong ambilkan sarung dong."
Titah bertanya, "Untuk apa, Ay?"
Daffa menjelaskan, "Itu untuk Paijo, kasihan Paijo kedinginan. Paijo ketiduran di luar, sudah saya coba bangunin nggak bangun-bangun. Warung juga belum dia tutup, tapi sekarang sih sudah saya tutup warungnya sebelum saya masuk ke dalam rumah, Yank."
Titah menjawab, "Oh, gitu. Ya sudah, tunggu sebentar ya. Saya ambilkan dulu sarungnya."
Dzaka menawarkan, "Tidak usah, Bunda, biar Dzaka saja yang ambil dan selimuti Paklik Paijo."
Titah menyuruh, "Ya sudah, gih sana, ambil sarungnya di kamar ya."
Dzaka patuh, "Siap, delapan enam, Bunda…"
Dzaka Menjahili Paijo
Di depan rumah, Dzaka mencoba membangunkan Paijo, tetapi Paijo tetap tidak bangun. Dzaka kemudian menjahili Paijo.
Dzaka bergumam, "Waduh, Paklik Paijo bisa sambil nyanyi gitu tidurnya. Hemm… sudah selimuti saja deh, kasihan juga lama-lama, kalau kedinginan gitu. Haa… apaan nih, kain putih? Aha… aku punya ide…"
Dzaka memanggil, "Lik Jo…"
Paijo menggerutu, "Aah… apaan sih? Ganggu aja kamu ini orang, enak-enak tidur juga malah digangguin. Emm…"
Dzaka menakut-nakuti Paijo dengan kain putih, "Lik Jo… hihi… hihi… Lik Jo…"
Paijo terkejut dan tertimpa rak, "Emm… apaan sih? Haa… Poc, poc, poci… Eh, pocong…"
Dzaka menghentikan kejahilannya, "Waduh, Lik, Lik Jo…"
Paijo marah, "Itu loh, Dzaka, tadi! Haa… ini kan kain putih, jangan-jangan pocong itu tadi adalah kamu ya, Dzaka? Kamu itu bagaimana sih, Dzaka? Kamu tahu nggak Paklik Paijo ketimpa rak sebesar ini? Memangnya kamu pikir Lik Jo nggak kesakitan apa? Kesakitan tahu nggak sih?"
Dzaka memohon, "Ampun, Lik, ampun, Lik Jo…" Paijo mengejar Dzaka ke dalam rumah.
Keesokan Harinya
Di Rumah Pak Sobri
(Di kamar Pak Sobri dan Bu Yani)
Bu Yani bertanya-tanya, "Jam berapa ya sekarang? Oh, jam dua pagi. Mandi deh, habis itu beberes rumah… Loh, Bang Sobri ke mana ya?" Bu Yani bingung karena suaminya tidak ada di kamar.
(Di dapur)
Bu Yani heran, "Loh, kok sudah ada sarapan di dapur? Nasi goreng? Coba lihat ke belakang ah…"
(Di halaman belakang rumah Pak Sobri)
Bu Yani semakin heran, "Loh, kok sudah ada jemuran? Berarti sudah tidak ada cucian baju lagi dong? Nyapu sama ngepel ah… Loh, kok sudah pada bersih sih? Lantainya juga wangi lagi. Coba kacanya sekarang… sama bersihnya, kinclong juga lagi. Siapa yang bersihkan rumah ya? Apa Bang Sobri ya? Ah, mana mungkin Bang Sobri yang bersihkan rumah?" Bu Yani terus bertanya-tanya melihat rumahnya rapi dan bersih.
(Pak Sobri muncul)
Pak Sobri menjawab, "Nggak mungkin gimana? Memang saya kok yang bersihkan rumah. Mulai dari nyapu, ngepel, nyuci piring, nyuci baju, masak untuk sarapan pagi hari ini. Saya kan juga kasihan sama kamu yang mengerjakan tugas rumah tangga. Sudah, kamu hari ini jangan ngapa-ngapain. Nanti kan si Jali ke sini, kamu bebas suruh-suruh dia."
Bu Yani memastikan, "Bener ye, Bang? Aye kagak ngapa-ngapain di rumah dan Jali begug aye suruh-suruh ye, Bang?"
Pak Sobri membenarkan, "Iya, benar…"
Bu Yani lega, "Oke deh…"
Di Rumah Daffa
Inah selesai memasak, "Sudah selesai masaknya, sekarang tinggal taruh di meja makan deh."
Zahwa berkata, "Mandi ah…"
Inah merasa takut, "Iih, kok Inah merinding ye? Terus juga siapa ye yang tadi lewat? Perasaan aye dari tadi kagak ada siapa-siapa dah."
Paijo tiba-tiba muncul dan membuat Inah terkejut, "Inah…"
Inah dan Paijo berteriak ketakutan, "Haaaa… Aaaa… Aaa…"
(Di Kamar Titah dan Daffa)
Titah bertanya, "Suara ribut-ribut apa sih itu, Mas?"
Daffa menjawab, "Nggak tahu, Sayang. Coba kita lihat yuk."
Titah mengajak, "Yuk, Mas…"
Titah dan Daffa terbangun karena suara ribut dari dapur. Mereka mengecek dan mendapati Paijo dan Inah.
Daffa bertanya, "Eeh, ini ada apa sih, Inah, Paijo?"
Titah bertanya, "Tahu nih, ada apa sih? Suara kalian kedengaran tuh sampai kamar tahu?"
Inah menjelaskan, "Maaf, Bu Titah, Pak Daffa. Ini loh, habisnya Paijo ngagetin saya. Saya juga lagi takut, dan rambutnya menutupi wajahnya Paijo. Ya, jadi saya teriak, eh dia malah ikutan teriak lagi, Bu. Ya, tambah takut lah saya, Bu."
Paijo menjelaskan, "Maaf juga, Nah. Tadi saya keluar kamar dan menghampiri kamu itu cuma mau tanya jam doang."
Titah berkata, "Oalah, jadi gitu. Ya sudah, gih sana lanjut lagi kerjanya. Saya dan suami mau siap-siap juga untuk salat Subuh dan nanti kita salat berjamaah di mushola rumah ya, Jo, Nah."
Paijo dan Inah menjawab, "Iya, Pak Daffa, Bu Titah."
Paijo meminta maaf, "Nah, punten nggih…"
Inah memaafkan Paijo, "Iye, Jo. Ye, udah elu bantu aye ye taro ini di meja makan. Aye mau siapkan gelas dulu dan setelah salat Subuh berjamaah baru siapkan minumannya Manting Pak Kamil dan keluarganya."
Paijo membantu, "Delapan enam, Nah…"
(Di Mushola Rumah Daffa)
Daffa bertanya, "Yank, Paijo, Inah, Bapak, Naufal, dan anak-anak mana ya? Kok belum ke mushola untuk berjamaah?"
Titah menjawab, "Nggak tahu, Mas. Sebentar, saya lihat ke kamarnya masing-masing dan saya juga mau lihat ke dapur ya."
Daffa menjawab, "Iya…"
Di Rumah Pak Sobri
Pak Sobri dan Bu Yani bersiap ke masjid untuk salat Subuh berjamaah.
Pak Sobri mengeluh, "Buruan dong, lama amat!"
Bu Yani mengeluh, "Sabar ngapa, Bang? Kagak sabaran amat, buru-buru amat mau ke mana sih emang? Kan cuma ke masjid doang, Bang. Buru-buru amat."
Pak Sobri berkata, "Ye, bukannya gitu. Keburu komat tahu! Kan elu jalannya lama. Udeh, yuk!"
Bu Yani menjawab, "Iye, iye, Bang. Tunggu aye kunci pintunya dulu."
Pak Sobri tidak sabar, "Buru…"
Di Rumah Daffa
Titah keluar dari mushola dan mengecek anak-anaknya. Pertama, ia menuju kamar Dzaka.
(Di kamar Dzaka)
Titah berkata, "Oh, sudah siap? Tumben, biasa belum."
Dzaka menjawab, "Sudah dong, Bun."
Titah menyuruh, "Ya sudah, cepat gih sana ke mushola. Sudah ditunggu Ayah tuh."
Dzaka patuh, "Siap, Bun…"
(Menuju kamar Dzaki)
Sebelum sampai kamar Dzaki, Titah bertemu Dzaki dan menyuruhnya ke mushola.
Dzaki bertanya, "Loh, Bun, mau ke mana?"
Titah menjelaskan, "Bunda mau ke kamar kamu. Karena kamu sudah ada di sini, kamu cepat ke mushola ya. Kasihan Ayah menunggu di sana sendirian. Bunda ingin ke kamar Adikmu Zahwa dulu."
Dzaki patuh, "Oke… Bunda."
(Di kamar Zahwa)
Titah memanggil, "Zahwa…"
Zahwa menjawab, "Iya, Bun…"
Zahwa bertanya, "Kenapa, Bunda?"
Titah menjawab, "Berjamaah dulu yuk, sudah ditunggu Ayah."
Zahwa patuh, "Inggih, Bunda…"
(Di kamar Pak Nano)
Titah memberi salam, "Assalamu'alaikum, Pak…"
Pak Nano menjawab, "Waalaikumussalam, Nduk…"
Titah bertanya, "Sampun, Pak?"
Pak Nano menjawab, "Sampun, Nduk…"
Titah bertanya, "Naufal pundi, Pak? Sampun ugi dereng, Pak?"
Pak Nano menjawab, "Bapak mboten mangertos, Nduk. Cobi mriksa teng kamare."
Titah berkata, "Inggih, Pak. Bapak dhateng mushola dalem kemawon rumiyen kaliyan Zahwa."
Zahwa menambahkan, "Mangga, Mbah…"
Pak Nano menjawab, "Inggih, Nduk…"
(Di kamar Naufal)
Titah memanggil, "Naufal…"
Naufal menjawab, "Inggih, Budhe…"
Titah menyuruh, "Mangga dhateng mushola. Sampun tengga Om panjenengan kagem berjamaah."
Naufal patuh, "Inggih, Budhe…"
(Kembali di mushola)
Paijo dan Inah memberi salam, "Assalamu'alaikum, Pak Daffa…"
Daffa menjawab, "Waalaikumussalam…"
Daffa bertanya, "Loh, Inah, Paijo, istri saya mana? Tidak sama kalian ke musholanya?"
Paijo menjawab, "Mboten, Pak…"
Inah menjelaskan, "Iya, benar apa kata Paijo. Ibu tidak sama aye ame Paijo. Mungkin sedang di kamar anak-anak, Pak."
Daffa berkata, "Oh, gitu. Sudah, kita tunggu saja di sini. Sambil menunggu Ibu, Ayah mertua saya, dan anak-anak, kita shalawatan ya."
Inah dan Paijo menjawab, "Iya, Pak…"
(Kedatangan Pak Nano, Dzaka, Dzaki, dan Zahwa)
Mereka memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
Paijo, Inah, dan Daffa menjawab, "Waalaikumussalam…"
Daffa bertanya, "Loh, Bunda kalian mana?"
Dzaka menjawab, "Panggil Mas Naufal ke kamarnya, Yah."
Zahwa menunjuk, "Itu Bunda dan Mas Naufal, Yah."
Naufal dan Titah memberi salam, "Assalamu'alaikum."
Daffa menjawab, "Waalaikumussalam…"
Daffa berkata, "Sudah ada di mushola semua. Sekarang kita lanjut shalawat lalu salat Subuh berjamaah."
Anak-anak Daffa menjawab, "Iya, Ayah…"