Seorang gadis menengadahkan kepalanya menatap langit yang cerah. Sudah setengah jam, ia menunggu. Namun, Tarissa tak kunjung menjemput. Ingin menelepon pun, ia tak membawa ponsel. Rasanya, menjijikkan sekali jika dirinya membawa ponsel berwarna pink itu. "Mau sampe gue nunggu, ya Allah? Cukup, nunggu dia nggak peka aja, gue nggak sanggup! Apalagi nunggu Mami yang nggak dipastikan, kapan jemput anaknya ini!" Erinna merasa menyesal telah menolak ajakan Sisi dan Seno. Andai saja, ia setuju untuk pulang bersama mereka. Namun, karena ia yang merasa belum akrab, akhirnya menolak dan menunggu seorang diri di sekolah yang mulai sepi. Dari arah parkiran, seorang pemuda tersenyum tipis melihat Erinna yang tengah menulis-nulis di tanah. Tampak seperti anak kecil. Kemudian, ia mengendarai motor

