Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi, namun cahaya sudah masuk ke dalam kamar melalui celah tirai. Vania masih berbaring di tempat tidur, satu tangan mengusap perutnya yang kini benar-benar besar. Delapan bulan. Ia menarik napas panjang. “Berat sekali…” gumamnya pelan. Ia mencoba bergeser sedikit. Namun gerakan kecil saja sudah membuatnya mengerutkan kening. Di sampingnya, Jevan yang sudah bangun lebih dulu memperhatikan itu. “Kamu bangun?” Vania menoleh. “Iya…” “Sakit?” “Tidak… cuma berat.” Jevan mengangguk. Hari ini memang bukan hari biasa. Hari ini mereka akan ke rumah sakit. Memeriksa kondisi terakhir kehamilan Vania. Dan juga… mendengar perkiraan hari kelahiran. Jevan berdiri. “Siap-siap.” Vania menghela napas. “Aku malas

