Sore itu rumah kembali terasa hidup dengan suasana yang cukup ringan. Vania duduk di ruang keluarga sambil menyender, satu tangan mengusap perutnya yang sudah semakin besar. Sesekali ia menghela napas panjang, tapi wajahnya terlihat lebih santai dibanding beberapa hari lalu. Jelita duduk di lantai, sibuk dengan ponselnya. “Aku lapar lagi,” gumam Vania. Jelita langsung menoleh. “Kamu baru makan satu jam lalu.” “Itu sudah lama.” “Itu tidak lama.” Namun sebelum perdebatan kecil itu berkembang— Ting tong. Bel rumah berbunyi. Jelita langsung berdiri. “Aku buka.” Ia berjalan ke pintu dengan langkah santai. Begitu pintu terbuka— Andrew berdiri di sana. Dengan setangkai bunga mawar di tangannya. Jelita langsung terdiam. Matanya sedikit membesar. “Kamu…” Andrew tersenyum. “Untuk

