Calvin masih duduk terdiam di tempat duduknya. Tangannya mengepal kuat sambil melihat ke arah Aruna yang masih terus menatapnya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah. “Silahkan, Pak Calvin,” ucap Aruna lagi. Calvin berusaha tetap tenang. Walaupun sebenarnya dia belum tahu akan mengatakan apa tentang rencana pembangunan cabang baru perusahaan yang memang belum terjadi serta pengeluaran yang rutin terjadi satu tahun terakhir ini. Calvin menghidupkan microphonenya dan mulai berbicara. “Selamat siang bapak dan ibu pemegang saham. Terima kasih Ibu Aruna atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena belum membicarakan mengenai rencana pembangunan cabang baru perusahaan dikarenakan saya belum mendapatkan lokasi yang saya rasa cocok sebagai lokasi cabang

