Pagi itu Aruna sedang menikmati sarapannya. Obat dan vitamin yang diberikan Keenan kemarin benar-benar bekerja dengan baik. Kontraksi di perutnya perlahan berkurang dan pagi ini kontraksi itu sudah benar-benar hilang. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. “Sepertinya ada yang datang, Non,” ucap Anna yang sedang menuangkan air minum untuk Aruna sambil sesekali melihat ke arah depan rumahnya. Aruna melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. “Taksi yang ku pesan akan datang satu jam lagi. Kenapa datang secepat ini?” ucap Aruna bingung. “Oh, mungkin itu adalah Keenan!” wajah Aruna seketika berbinar, “Biar saya saja yang membukakan pintunya, Bik.” Aruna bangkit dari duduknya dan berjaan dengan semangat menuju pintu depan rumahnya. Namun wajahnya seketika berubah be

